Cara Mudah Menghapal Al-Quran

Ada kesan bahwa menghapal Al-Quran itu sulit yang salah satunya seringkali dihubungkan dengan kenyataan bahwa Al-Quran diturunkan dengan Bahasa Arab, yang notabene bukan bahasa inang (dimengerti). Atau karena lain-lain hal, bermuamalah dengan Al-Quran seringkali dikontradiksikan dengan alasan waktu, kesibukan, usia dan lain sebagainya.

Membaca Al-Quran telah dikuasai oleh berbagai latar belakang budaya dan bangsa dengan berbagai tingkat usia di berbagai belahan dunia. Sebagaimana kita ketahui, sangat banyak yang dapat menghapal Al-Quran secara keseluruhan (30 Juz)  bahkan sejak anak-anak di usia dini dan tidak sedikit dari para penghapal tersebut justru tidak mengerti akan bahasa Al-Quran itu sendiri. Demikian itu karena demikianlah Al-Quran, sebagaimana telah Allah firmankan:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ 
[٥٤: ١٧، ٢٢، ٣٢، ٤۰]
“Dan sungguh Al-Quran ini kami jadikan mudah untuk dzikir (pelajaran), maka adakah orang yang mengambil pelajaran.” (Al-Qamar/54: 17, 22, 23, 40)

Anggapan bahwa menghapal Al-Quran itu sulit merupakan kesalahan pertama bagi orang yang hendak melakukannya. Adapun kesalahan kedua adalah tergesa-gesa. Seringkali seseorang berkeinginan untuk sesegera mungkin untuk dapat menghapal Allah secara keseluruhan atau sebagiannya sehingga kemudian seseorang menjadi kelelahan baik setelah atau bahkan sebelum dapat menyelesaikan targetnya. Ketergesaan seperti ini seringkali lebih mengutamakan target kuantitas belaka.
Hal mendasar yang harus tertanam dalam kesadaran kita dalam menghapalnya adalah bahwa dengannya itu Allah mengajarkan Al-Quran kepada manusia (55: 2). Prinsipnya bukan tentanga tingkat kecerdasan, talenta atau berbagai kelebihan yang dimiliki seseorang. Oleh karena itu penting sekali untuk kita beritikad bahwa dalam hal kemampuan membaca/menghapal Al-Quran adalah kehendak Allah atas seseorang dan sepatutnyalah kita meminta kepada-Nya untuk diberi nikmat yang besar ini.
Oleh karena itu pula kemudian sangatlah penting bagi kita untuk meluruskan niat dalam membaca/menghapal Al-Quran karena dengan niat yang lurus itulah kemudian ketetapan Allah yang menegaskan bahwa Al-Quran itu telah dimudahkan akan tercurahkan sebagai rahmat-Nya kepada kita. Karena jika tidak, meskipun seseorang mampu untuk menghapal secara keseluruhan sekalipun, nikmat yang besar itu hanya akan menjadi malapetaka bagi orang tersebut, na’udzubillah. Dengan niat yang lurus, bahkan jika seseorang merasa kesulitan dalam mempelajari/menghapal Al-Quran, adalah mendapatkan kenikmatan yang sangat besar.
Rasulullah s.a.w. berkata:

وَالَّذِي يَقْرَأُهُ وَهُوَ يُتَعْتِعُ فِيهِ وَهُوَ شَاقٌّ عَلَيْهِ فَلَهُ أَجْرَانِ (رواه النسائي)
“... dan orang yang terbata-bata membacanya dan (Al-Quran) itu terasa sulit maka untuknya ada dua pahala.” (Riwayat An-Nasa’i)

Sehubungan dengan niat yang tulus itu, hal-hal berikut sepatutnya menjadi perhatian bagi orang yang mempelajari/menghapal Al-Quran sehingga seseorang akan merasakan nikmatnya mempelajari/menghapal Al-Quran, yakni:
a.         Bukan berapa banyak ayat dalam satu waktu, tetapi berapa banyak waktu untuk menghapal;
Hal ini merupakan rumusan yang sederhana, akan tetapi konsistensi seseorang benar-benar akan diuji dengannya. Waktu, adalah rezeki yang diberikan Allah kepada seluruh makhluk dan tiada seorangpun yang tidak memilikinya. Dalam hal adanya kesulitan dalam membagi waktu, sebenarnya cukup mudah bagi kita untuk mengukur seberapa baikkah (adil) dalam menggunakannya dengan mencari waktu yang digunakan untuk hal-hal yang tidak berguna atau yang digunakan untuk sesuatu secara dominan (baca: berlebihan). Secara sederhana pula, kita dapat memulainya dengan komitmen waktu yang kita niatkan, seberapa banyakkah waktu yang hendak kita shadaqahkan untuk menghapal Al-Quran setiap harinya?

b.        Tidak diburu-buru dan Tidak untuk ditunda-tunda!
Artinya, ada kondisi yang tidak boleh dipaksakan dan ada kondisi di mana Anda harus memaksakan diri. Sikap terburu-buru biasanya mengkondisikan seseorang untuk melakukan sesuatu dengan berlebihan dan hal ini akan mengakibatkan kelelahan yang luar biasa sehingga bisa dengan mudah pula seseorang akan cepat menyerah. Di sisi lain, ada banyak hal yang bisa membuat enggan untuk menghapal Al-Quran, dan itu seringkali terjadi di saat seseorang berpikir untuk menunda sesuatu karena hal yang tidak penting sama sekali atau bahkan hanya karena rasa malas.
_
c.         Menjaga hapalan secara multimedia dan terlibat dalam halaqah tahfizh.
Kita berada di zaman multimedia, yakni banyak hal yang telah dibuat sedemikian rupa untuk memudahkan dan termasuk dengan Al-Quran. Dari smartphone saja, sebagai contoh, mulai dari aplikasi dan media-media lain dapat digunakan untuk Al-Quran. Kini, kini bisa dengan mudah membaca, mendengarkan, menelaah dan memahami Al-Quran atau bahkan bergabung dengan halaqah penghapal Al-Quran. Multimedia dan halaqah (komunitas) akan sangat membantu kita tetap konsisten dengan komitmen untuk menghapal Al-Quran.
Menghapal atau mempelajari Al-Quran dengan niat ikhlas benar-benar harus terjadi oleh seseorang karena bisa jadi dalam melakukan hal tersebut dapat tercampur dengan maksud-maksud lain yang justru dapat menjerumuskannya pada dosa besar seperti kemusyrikan dan dosa-dosa lain. Niat inilah kemudian yang akan menentukan apa yang akan diraih seseorang dengan Al-Quran, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah s.a.w.:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهذا اْلكِتَابِ أَقْوَامًاً وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ (مسلم)
“Sesungguhnya dengan Kitab (Al-Quran) ini Allah akan mengangkat satu golongan manusia dan akan menjatuhkan satu golongan lainnya.” (Riwayat Muslim)



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!