Sebagian umat Islam
mengutamakan momentum Isra Mi’raj dan selalu memperingatinya pada setiap
tanggal 27 Rajab dan menamakan peringatan tersebut dengan istilah Rajaban.
Mengingat keagungan peristiwa tersebut, memang selayaknya menjadi perhatian
seorang yang beriman. Pada saat terjadinya peristiwa tersebut salah satu dari
shahabat terbaik Rasulullah s.a.w. mendapat predikat Ash-Shiddiq, yakni
Abu Bakar r.a. yang gelar kehormatan tersebut diberikan kepadanya karena beliau
menunjukkan keteguhannya untuk selalu membenarkan apa yang dikatakan oleh
Rasulullah s.a.w.
Puncak perjalanan
Rasulullah pada peristiwa Isra Mi’raj adalah ketika Allah mewahyukan secara
langsung kepadanya, yaitu ditetapkan lima puluh waktu shalat fardhu. Di saat
Rasulullah s.a.w. hendak kembali turun ke bumi, ia bertemu dengan Musa a.s. dan
ia bertanya, “Apa yang diperintahkan Allah kepadamu?”
Rasulullah menjawab,
“Lima puluh kali shalat untuk sehari semalam.”
Musa berkata, “umatmu
tidak akan mampu memenuhinya. Kembalilah kepada-Nya, mintakanlah keringanan!”
Maka Rasulullah pun
kembali menghadap Allah untuk itu dan mendapatkan pengurangan lima waktu
shalat. Akan tetapi kemudian Musa a.s. tetap menyuruhnya agar memintakan
pengurangan sehingga untuk beberapa kali Rasulullah pulang pergi dari Musa
kepada Allah sampai kemudian didapat jumlah shalat lima waktu. Maka ketika itu
pun Musa tetap menyuruh beliau untuk kembali kepada Allah dan Dia berfirman:
“Hai Muhammad,
sesungguhnya itu lima waktu shalat untuk setiap sehari-semalam dan untuk setiap
shalat tersebut aku lipatgandakan sepuluh sehingga (jumlah kebaikannya) itu
lima puluh kali. Dan barangsiapa yang berkehendak melakukan kebaikan tetapi
tidak sampai dikerjakannya, maka aku tuliskan untuknya sebagai satu kebaikan.
Dan barang siapa yang berkehendak atas kebaikan dan ia melakukannya maka aku
tuliskan untuknya menjadi sepuluh kebaikan. Dan barangsiapa yang berkehendak
atas keburukan dan ia tidak melakukannya maka Aku tidak akan menuliskan apa-apa
atasnya, dan apabila ia berkehendak atas keburukan dan sampai melakukannya maka
aku hanya akan menuliskannya sebagai satu keburukan saja.” (Riwayat Muslim No.
259/162)
Di dalam berbagai
riwayat, disebutkan begitu banyak gambaran yang dilihat Raslullah s.a.w. dalam
perjalanan Isra Mi’rajnya dan perjalanan tersebut adalah titik terjauh dari
perjalanan yang dapat ditempuh oleh makhluk Allah. Demikian itu dikatakan oleh
Ibnu Abbas dan para ulama salaf lainnya, bahwa penamaan Sidratul Muntaha itu
juga karena disanalah akhir dari pengetahuan para malaikat dan tak satupun yang
dapat melampauinya kecuali Rasulullah s.a.w. seorang saja. Dan, di balik
agungnya peristiwa tersebut, bahwasannya ketika itulah Allah secara khusus
menyampaikan wahyu tentang shalat fardhu untuk Nabi Muhammad s.a.w. dan
umatnya.
Dan apa yang
melatarbelakangi Isra Mi’raj Rasulullah s.a.w. juga bukanlah persoalan yang
mudah untuk dihadapi, dimana sebelum peristiwa tersebut Rasulullah dihadapkan
dengan embargo ekonomi atas kaum muslimin yang berlangsung selama tiga tahun yang
mengakibatkan kesengsaraan yang luar biasa serta meninggalkan paman beliau Abu
Thalib dan istrinya Khadijah. Sebelum perjalanan itu pula Rasulullah mendapat
penolakan keras dari berbagai kabilah, pengusiran nista dari penduduk Tha’if
dan gangguan orang-orang Quraisy setelah itu. Dan ketika Rasulullah kembali
dari Isra Mi’raj dan menyampaikan berita tersebut beliau diolok-olok dan tidak
sedikit dari orang yang telah beriman yang keluar dari keislamannya.
Dari rentetan peristiwa
tersebut dapat diambil pelajaran sehubungan dengan perintah shalat fardhu yang
lima waktu, diantaranya:
a)
Bahwa pewahyuan yang
istimewa mengenai perintah shalat fardhu menunjukkan keagungan dari ibadah
shalat itu sendiri.
b)
Bahwa apapun yang
terjadi, seberat apapun persoalan yang dihadapi seseorang apalagi dengan
keadaan sebaliknya, keteguhan (istiqomah) dalam keimanan akan membuahkan
kenikmatan yang tidak terhingga di sisi Allah. Isra Mi’raj, baik sebagai
peristiwa atau sehubungan dengan perintah shalat yang ada di dalamnya,
memberikan kenikmatan yang tidak terhingga bagi orang yang tetap teguh dalam
keimanannya.
c)
Bahwa sikap lalai,
menyepelekan, mengabaikan, mencemooh atau tindakan menghalangi orang yang
shalat atau dari shalatnya adalah sikap yang sangat bertentangan dengan
keagungan shalat.
Maka, dalam hal
memperingati keagungan peristiwa Isra Mi’raj dan ketetapan Allah yang ada di
dalamnya, yakni shalat, hendaknya kita senantiasa memperhatikan shalat kita
mulai dari kehusyuan di dalam shalat karena telah dikatakan oleh Rasulullah
s.a.w. bahwa:
أَوَّلُ مَا يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ
الْأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى لَا يُرَى فِيهِ خَاشِعًا (رواه الطبراني: ١٥٧٩)
“Yang
pertama kali diangkat dari umat ini yaitu kekhusyuan, sehingga tidak tampak di
dalam shalatnya kekhusyuannya.”
(Riwayat
Thabrani).
__
Dari ini pula, atas apa
yang dijelaskan di dalam Al-Quran tentang munculnya generasi yang
menyia-nyiakan shalat, hendaknya kita senantiasa berlindung kepada Allah dari
keadaan tersebut. Allah SWT berfirman:
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ
أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
[١٩: ٥٩]
“Maka datanglah sesudah mereka,
pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa
nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (Maryam/19: 59)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!