Rezeki yang Tidak Disangka-Sangka


Ibadah dan ketakwaan bukanlah cara untuk mendapatkan rezeki. Namun tidak sedikit orang yang sering mempertanyakan segala bentuk ibadah yang telah dilakukannya dalam hal kaitan dengan rezeki yang diterimanya. Seringkali muncul anggapan yang seolah-olah menyangsikan apa yang dijanjikan Allah SWT, dengan mengatakan, “sudah banyak aku beribadah tetapi kenapa rezeki tetap sulit.”
__
Ada persepsi yang keliru dalam menilai rezeki dengan menisbatkannya pada sifat harta benda (uang) saja. Karena di samping bahwa rezeki yang dikaruniakan Allah tidak terbatas pada harta benda, bahkan harta benda tersebut (seperti uang yang telah tersimpan di rekening, misalnya) belum tentu merupakan rezeki bagi dirinya. Karena sebenarnya uang tersebut sebenarnya hanya dapat dikatakan telah menjadi rezeki seseorang di saat ia sudah membelanjakannya.
Rezeki adalah segala sesuatu yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya baik yang bersifat zhahir (materil) maupun bathin. Prinsip dasarnya, yang harus dipahami dengan benar, bahwa itu mutlak bersumber dari Allah. Maka dari pengertian tersebut sangatlah luas cakupannya dan harta benda hanya merupakan sebagian kecilnya saja. Allah menetapkan rezeki untuk makhluknya setidaknya dalam tiga kategori mendasar, yaitu: rezeki yang telah dijamin untuk segenap makhluk-Nya, rezeki yang didapatkan dengan berusaha dan rezeki yang dikaruniakan Allah secara khusus yang orang-orang yang dikasihi-Nya. Di antara ketiga macam rezeki tersebut, jenis ketigalah yang sifatnya istimewa, yang secara umum dikenal dengan sebutan rezeki yang tidak disangka-sangka.
Rezeki yang tidak disangka-sangka ini dijanjikan Allah hanya orang tertentu saja. Di dalam Firman-Nya dikatakan:

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا ؛ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۚ  [٦٥: ٢-٣]
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq/65: 2-3)
Keistimewaan tersebut hanya akan diraih oleh orang-orang yang bertakwa. Jadi, jika seseorang mengidam-idamkan datangnya rezeki yang tidak disangka-sangka tersebut pada dasarnya cukuplah sederhana apa yang harus dilakukannya hanya dengan bertakwa kepada Allah SWT.

__
Di dalam Al-Quran kata yang tiada disangka-sangka ( احْتَسَبَ – يَحْتَسِبُ ) dan hanya dalam satu ayat ini disebutkan menyangkut rezeki. Dua ayat lainnya menjelaskan tentang akibat buruk yang akan diterima oleh manusia di dunia dan di akhirat yang diberlakukan bagi orang-orang yang durhakan (lih. 39: 47 dan 59: 2). Dengan demikian dapat diambil satu kesimpulan yang mendasar bahwa rezeki yang tidak disangka-sangka tersebut hanya diraih oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah, yang notabene sudah tentu bukanlah orang-orang yang memuja-muja kekayaan atau jumlah properti yang melimpah, melainkan mereka yang benar-benar menjadikan akhirat sebagai tujuannya. Dan apakah yang didapatkan orang dengan ketakwaannya yang hanya mengidam-idamkan kebahagiaan akhirat, Rasulullah s.a.w. mengatakan:

مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ (الترمذي)
“Barangsiapa barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan dikumpulkan keseluruhan (urusannya), dan kehidupan dunia akan datang kepadanya dengan segala kelapangannya.  Dan yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Allah akan menceraiberaikan urusannya, dijadikan kefakiran di depan matanya dan dunia tidak datang kepadanya melainkan dengan kadar yang bisa dia upayakan belaka.” (Riwayat Tirmidzi, shahih)



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!