Banyak riwayat
disebutkan mengenai perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad s.a.w. dan dari
riwayat-riwayat tersebut tidak sedikit pula yang lemah dan munkar, yang boleh
jadi sebagian besar dari ungkapan-ungkapan hadits tersebut justru banyak
beredar di kalang umat Islam. Karena hal-hal yang diungkapkan oleh hadits
tersebut berada di ranah keghaiban, dan bisa jadi sangat berkaitan dengan
aqidah, seyogyanya kita cukup berhati-hati akan hal-hal yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Berikut ini adalah
hadits yang dinukil oleh Syaikh Al-Khudhari dalam kitabnya Nurul Yaqin fi
Sirah Sayyid al-Mursalin; diriwayatkan oleh Muslim, dari Anas bin Malik
r.a., Rasulullah s.a.w. berkata: “Didatangkan kepadaku Buraq, kemudian aku
menungganginya yang kemudian ia membawaku sampai di Baitul Maqdis maka kemudian
aku mengikatnya dengan ikatan yang semula digunakan para nabi dan aku memasuki
masjid kemudian shalat dua raka’at. Setelah itu aku keluar masjid dan Jibril
mendatangiku dengan satu gelas arak dan satu gelas air susu. Aku memilih air
susu, maka Jibril berkata: ‘(Dengan begitu berarti) engkau telah memilih
fitroh.’
__
Kemudian kami naik (dimi’rajkan)
ke langit dan (sesampainya di langit pertama) Jibril mengetuk pintu. Ia
ditanya, ‘siapakah engkau?’ Ia menjawab, ‘aku Jibril.’ Ia ditanya kembali, ‘dan
siapa yang bersamamu?’ Ia menjawab, ‘Muhammad.’ Ia ditanya kembali, ‘apakah
memang diutus kepadanya?’ Ia menjawab, ‘ya, telah diutus kepadanya.’ Maka
dibukakanlah untuk kami dan di sana kami bertemu dengan Adam a.s., ia
menyambutku dengan suka cita dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik ke
langit kedua dan Jibril mengetuk pintu langit. Dikatakan kepadanya, ‘siapakah
engkau?’ Ia menjawab, ‘aku Jibrill.’ Ia ditanya, ‘dan siapa yang bersamamu?’ Ia
menjawab, ‘Muhammad.’ Ia ditanya, ‘apakah memang diutus kepadanya?’ Ia
menjawab, ‘ya, telah diutus.’ Maka dibukakanlah pintu langit untuk kami dan di
sana bertemu dengan dua kemenakanku yakni Yahya dan Isa putra Maryam. Mereka
berdua menyambut dengan gembira dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik ke
langit ketiga – dan disebutkan seperti sebelumnya – sehingga dibukakan pintu
langit dan kami berjumpa dengan Yusuf a.s. yang sungguh ia telah dikaruniai
keelokan paras. Ia menyambutku dengan gembira dan mendokan kebaikan untukku. Kemudian
kami naik ke langit keempat – dan disebutkan seperti semula – dan menjumpai
Idris a.s., yang ia menyambut dengan gembira dan mendoakan kebaikan untukku.
(Ia sebagaimana) Allah SWT telah berfirman dalam surat Maryam (ayat 57); ‘Dan
Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’
Kemudian kami naik ke
langit ke lima – dan disebutkan seperti sebelumnya – dan bertemu dengan Harun.
Ia menyambut dengan gembira dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik
ke langit keenam – dan disebutkan seperti sebelumnya – dan berjumpa dengan
Musa, ia menyambut menyambutku dengan gembira dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian kami naik ke
langit ketujuh – dan disebutkan seperti sebelumnya – dan kami menjumpai Ibrahim
a.s. yang sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma’mur, yang mana masuk
ke sana setiap harinya sebanyak tujuh puluh ribu malaikat dan tidak ada yang
kembali setelahnya (selamanya).
Kemudian aku dibawa ke
Sidratul Muntaha, yang (besar) daunnya seperti telinga gajah dengan buah seperti anggur, keindahannya
tidak akan dapat terlukiskan oleh siapapun dari makhluk. Allah kemudian
mewahyukan kepadaku, Dia memfardhukan shalat lima puluh kali atasku dan atas umatku
setiap sehari-semalam.
Kemudian aku turun (ke
langit keenam) bertemu Musa. Ia berkata, ‘apa yang telah difardhukan Allah atas
umatmu?’ Aku berkata, ‘lima puluh kali shalat.’ Ia berkata, ‘kembalilah kepada
Tuhanmu dan mintakanlah keringanan karena umatmu tidak akan mampu menunaikannya
dan sungguh (kewajiban itu) telah melemahkan kaumku.’ Maka aku kembali kepada
Rabb-ku dan aku berkata, ‘ya Tuhanku, ringankanlah atas umatku.’ Maka Dia
mengurangi lima waktu.
_
Aku kembali kepada Musa
dan mengabarkan, ‘telah dikurangi lima waktu untukku lima waktu.’ Musa berkata,
‘sungguh umatku tidak akan sanggup memenuhinya. Kembalilah kepada Tuhanmu dan
mintalah kembali keringanan!’ Maka kemudian aku senantiasa pulang pergi di
antara Musa dan Tuhanku (sampai dikurang hingga lima waktu saja), yang kemudian
Allah mengatakan, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya itu lima waktu shalat untuk
setiap sehari-semalam dan untuk setiap shalat tersebut aku lipatgandakan
sepuluh sehingga (jumlah kebaikannya) itu lima puluh kali. Dan barangsiapa yang
berkehendak melakukan kebaikan tetapi tidak sampai dikerjakannya, maka aku
tuliskan untuknya sebagai satu kebaikan. Dan barang siapa yang berkehendak atas
kebaikan dan ia melakukannya maka aku tuliskan untuknya menjadi sepuluh
kebaikan. Dan barangsiapa yang berkehendak atas keburukan dan ia tidak
melakukannya maka Aku tidak akan menuliskan apa-apa atasnya, dan apabila ia
berkehendak atas keburukan dan sampai melakukannya maka aku hanya akan menuliskannya
sebagai satu keburukan saja.’
Aku kemudian kembali turun (ke langit keenam)
dan mengabarkan kepada Musa. Musa kemudian berkata, ‘kembali lagi kepada
Tuhanmu dan mintakanlah keringanan.’ Maka aku berkata, ‘aku telah (banyak)
kembali kepada Tuhanku sampai aku merasa malu karenanya.’” (Riwayat Muslim No.
259/162)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!