Isra-Mi’raj adalah
kejadian yang dialami Rasulullah s.a.w. dari sekian peristiwa kenabian yang
menjadi momentum penting dalam risalah yang dibawanya. Kata isra berarti
perjalanan malam Rasulullah s.a.w. dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis (Masjidil
Aqsha), dan mi’raj adalah dinaikkannya beliau ke hadapan Allah di
Sidratul Muntaha. Peristiwa ini mutlak harus disikapi dengan keimanan,
mengingat ada banyak asumsi yang dilatarbelakangi penalaran empiris yang selalu
dikonfrontasikan. Sejak Rasulullah s.a.w. menyampaikan peristiwa tersebut
kepada orang banyak, terutama muncul dari orang-orang kafir yang memperolok
bahkan di antara orang-orang yang telah beriman muncul sikap mempertanyakan
sehingga hal itu kemudian membuatnya murtad.
__
Pada masa peristiwa
tersebut terjadi, untuk menerima kenyataan bahwa Rasulullah s.a.w. telah
menempuh jarak ±1500 km dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha bukanlah hal yang
dapat dengan mudah diterima akal. Atau dalam konteks kekinian, dengan berbagai
perkembangan ilmu pengetahuan dan pencapaian yang diraih manusia, interpretasi
maupun konfrontasi akan kejadiannya bisa dengan mudah dikedepankan orang sehingga
mengenyampingkan aspek qudrat iradat Allah SWT, sehingga manusia seringkali
terjebak pada interpretasi dan perdebatan yang tidak diperlukan dan melupakan
pesan inti dari peristiwa tersebut.
Salah satu pembahasan
yang selalu menjadi polemik adalah mengenai apakah Isra Mi’rajnya Rasulullah
s.a.w. dengan jasad atau ruh saja. Perdebatan semacam itu seringkali
menempatkan orang pada pembahasan yang tidak berkesudahan dan, sekali lagi,
menjadi lupa akan prinsip dasar katauhidan dan pesan dari peristiwa tersebut. Jumhur
ulama berpendapat bahwa Isra Mi’raj Rasulullah s.a.w. terjadi dengan jasadnya
dan dalam keadaan terjaga. Sebagian lain mengatakan dengan ruh saja dengan
mendalilkan pada pernyataan Aisyah r.a. yang tidak pernah merasakan kehilangan
diri Rasulullah s.a.w. dari sisinya di malam tersebut. Ada pula pendapat yang
mengatakan bahwa itu adalah melalui mimpi, karena mimpi para nabi adalah
kebenaran. Ada pula yang berpendapat bahwa Isra dari Masjidil Haram ke Baitu
Maqdis dengan jasad dan mi’rajnya hanya dengan ruh saja. Wallahu a’lam.
Sementara di pihak lain,
seringkali orang terlupa akan pesan penting dari peristiwa tersebut,
sebagaimana diketahui dari apa yang digambarkan Rasulullah s.a.w. di saat Allah
mewahyukan yang tidak lain adalah perintah shalat. Bahkan ketika beliau
menerima perintah tersebut sempat terjadi seperti ‘tawar-menawar’ karena ada
pertimbangan dari Musa a.s. mengenai jumlah waktu shalat. Dan apa yang
diwahyukan Allah ketika itu sebagai ketetapan ‘final’ mengenai shalat fardhu,
Allah SWT berfirman:
"...
يَا مُحَمَّدُ، إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، لِكُلِّ
صَلَاةٍ عَشْرٌ، فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلَاةً " (رواه مسلم)
“Hai,
Muhammad! Sesungguhnya itu (ketetapan-Ku) lima kali shalat setiap
sehari-semalam. Untuk satu shalat aku gandakan menjadi sepuluh, maka itu
menjadi lima puluh shalat.” (Riwayat Muslim 259/162)
Bahwa banyak orang yang
kemudian murtad dari keislamannya setelah menerima kabar tentang Isra-Mi’raj
ini. Sekelompok orang datang kepada Abu Bakar r.a., mempertanyakan persoalan
tersebut dan ia menjawab pertanyaan tersebut dengan tegas, “apabila ia
(Muhammad) mengatakan itu maka hal itu benar adanya.” Orang-orang kafir kembali
bertanya dengan menyangsikan karena tampak tidak masuk akal, “dia mengatakan
malamnya dia pergi dan sebelum pagi-pagi dia sudah kembali di sini?” Abu Bakar
kembali menegaskan, “seandainyapun lebih jauh dari itu, aku membenarkannya
dengan segala kabar langit yang dibawanya, pagi ataupun petangnya.” Dari
peristiwa inilah kemudian Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Shiddiq.
Isra-Mi’raj, sebagaimana
disikapi banyak orang ketika itu, tidak dapat memberikann kebaikan apa-apa
selama mereka berpikir tentang hal-hal yang tidak mungkin terjadi dengan selalu
mengatakan “bagaimana bisa” dan selalu mempertanyakan.
Mensikapinya dengan
keimanan adalah menerimanya sebagai kebenaran, apakah itu dengan jasad atau ruh
saja atau sebagai pewahyuan melalui mimpi, sebagai kehendak Allah SWT. Dan adanya perintah sholat lima waktu, yang dalam hal ini
merupakan puncak dari Isra Mi’raj Rasulullah s.a.w., mengisyaratkan kepada kita
bagaimana semestinya kita menempatkan shalat fardhu karena Allah telah
menetapkan cara yang sangat agung dalam menyampaikan perintah tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!