Puasa (shaum)
merupakan ibadah yang juga disyari’atkan Allah kepada umat-umat sebelum,
sebagaimana ditegaskan dalam ayat perintah shaum sendiri:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ
عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ [٢: ١٨٣]
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah
diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalin bertakwa.”
(Al-Baqarah/2: 183)
Ibnu Katsir menukilkan
dari para shahabat r.a. bahwa ibadah puasa senantiasa diwajibkan atas umat
sejak zaman Nuh a.s. sampai datangnya risalah Islam yang kemudian ditetapkan
pelaksanaannya selama bulan Ramadhan. Dalam ungkapan “supaya kalian bertakwa”,
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal itu karena shaum merupakan pensucian jiwa dan
menyempitkan gerak/pengaruh syetan. Rasulullah s.a.w. mengatakan:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ
مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ
بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ (البخاري ومسلم)
“Hai
para pemuda, barangsiapa dari kalian yang telah mampu untuk menikah, maka
hendaklah ia menikah. Akan tetapi apabila ia tidak dapat memenuhinya maka hendaklah
ia berpuasa, karena itu adalah merupakan penawar (untuk meredam dorongan
syahwat) baginya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Setiap
orang diciptakan dengan syahwat. Dari berbagai macam syahwat yang melekat pada
seseorang, seks memiliki dorongan yang sangat kuat sehingga apabila tidak
dipenuhi dapat menempatkan seseorang pada perilaku nista. Dalam arti
pelampiasan secara “normal”, apabila dilakukan dengan cara yang tidak
dibenarkan secara syar’i – seperti perzinahan, itu merupakan cara yang sangat
hina dan sangat buruk (lih. QS 17: 32) dan orang cenderung melakukan hal
tersebut karena ketidakkuasaan dalam menahan besarnya dorongan syahwat tersebut
pada dirinya. Puasa (shaum), sebagaimana Rasulullah s.a.w.
menegaskannya, adalah penawar yang dapat menundukkan dorongan tersebut.
Sifat menahan diri dalam
berpuasa mengandung hikmah yang sangat luar biasa, karena nilainya berbanding
terbalik dengan besarnya madharat yang melekat dari sesuatu yang ia menahan
diri darinya. Perzinahan, berkata-kata dusta, melakukan tindakan jahat atau
hal-hal yang diharamkan, dapat mengakibatkan madharat yang tidak terduga
besarnya. Menahan diri dari hal tersebut berarti terpelihara dari sekian banyak
madharat yang dapat ditimbulkannya dan itu bisa menyangkut agama, jiwa, akal,
kehormatan atau harta benda.
Di dalam berpuasa
terdapat substansi kesabaran, salah satunya dapat dilihat dari cara Rasulullah
s.a.w. menyebut bulan Ramadhan dengan bulan kesabaran (syahrush shabr),
dan Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ
أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ [الزمر: 10]
“Sesungguhnya hanya
orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(Az-Zumar/39: 10)
Kita dapat melihat
dimensi kesabaran yang paripurna, sebagaimana diketahui tentang tiga bentuk
kesabaran; sabar atas musibah, sabar dari maksiat dan sabar dalam keta’atan.
Shaum mengajarkan seorang muslim untuk dapat menahan “derita” rasa lapar dan
haus untuk hikmah besar yang terdapat di baliknya. Shaum mengajarkan agar seseorang
selalu dapat menahan diri maksiat atau terlarang, bahkan di saat menyendiri
bahkan dapat menahan diri hal-hal yang sebenarnya halal untuknya. Shaum
mengajarkan agar seseorang senantiasa menyempurnakan ketaatan, membersihkan
diri dan selalu dzikir kepada Allah.
Diriwayatkan dari Abu
Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. berkata:
كُلُّ عَمَلِ ابنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الحَسَنَةُ عَشْرُ
أَمْثَالِهَا إلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ الله عَزَّ وَجَلَّ: إلَّا
الصَّومَ، فَإنَّهُ لِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ
مِنْ أَجْلِي، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِه، وَفَرْحَةٌ
عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ الله مِنْ رِيحِ
المِسْكِ
(متفق عليه، عن أبي هريرة)
“Setiap amal anak adam dilipatkan kebaikannya dengan sepuluh sampai tujuh
ratus kali lipat, Allah mengatakan: ‘kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku
sendiri yang akan membalasnya. Ia (hamba-Ku) meninggalkan makanan dan
syahwatnya karena-Ku.’ Untuk orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan,
kebahagiaan di saat ia berbuka dan kebahagiaan di saat bersua dengan Tuhannya
(mendapatkan pahala shaum). Dan sungguh bau dari mulut orang yang berpuasa
lebih baik dari harum minyak kasturi.” (Muttafaq ‘alaih)
_
Sebagai keutamaan lain bagi orang yang berpuasa, Rasulullah s.a.w.
mengatakan:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيمَاناً
وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه، عن أبي هريرة).
“Barang siapa yang
berpuasa Ramadhan dengan dasar iman dan mengharap ridho Allah, akan diampuni
dosa-dosa yang telah lampau untuknya.” (Muttafaq ‘alaih)
فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ
يُسَمَّى الرَّيَّان، لا يَدْخُلُهُ إلَّا الصَّائِمُونَ
(متفق عليه، عن سهل بن سعد)
“Di
surga terdapat delapan pintu masuk, salah satunya pintu yang diberi nama dengan
Ar-Rayyan, yang tidak masuk melaluinya kecuali orang-orang yang
berpuasa.” (Muttafaq ‘alaih)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!