Di dalam surah Al-Syarh (94) Allah
menegaskan satu hukum kehidupan bahwa di balik kesulitan ada kemudahan. Akan tetapi apa yang telah Allah jadikan mudah
tidak berarti ada kesulitan yang tersembunyi di baliknya. Prinsip yang paling
mendasar dalam mensikapi dua kesan tersebut adalah keimanan. Dengan dasar
keimanan, kesulitan atau bahkan sesuatu yang sangat memberatkan sekalipun bisa
memberikan rasa nikmat yang yang sangat besar, apalagi sesuatu yang Allah
mudahkan. Ada berbagai kemudahan yang Allah tetapkan dalam ketentuan syari’at
dan itu tidak akan membuat seseorang mendapat madharat (baca: kesulitan atau
berkurangnya nikmat). Contohnya, adanya berbagai rukhshah dalam beribadah tidak
berarti berkurang nilai dan kenikmatan di dalam beribadah.
Oleh karena itu Rasulullah s.a.w.
mengatakan:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ (رواه البخاري)
“Sesungguhnya agama itu mudah, dan
tidaklah seseorang memberat-beratkan urusan agama kecuali hal itu yang akan
menjatuhkannya...” (Riwayat Bukhari)
Adapun sehubungan dengan kesulitan atau
hal-hal yang tidak disenangi, manusia seringkali memiliki sudut pandang yang
keliru dan bersikap negatif. Prinsip lain yang harus diperhatikan bahwasannya
Allah tidak membebankan sesuatu melainkan dengan kadar kemampuan hamba-Nya.
Jadi kesulitan apapun yang dihadapi seseorang dapat tentu dapat dihadapi dan
diselesaikan bahkan hal itu dapat terselesaikan dengan mudah. Dan setelahnya,
atau bahkan dalam menghadapi suatu kesulitan itu sendiri, Allah telah
menyiapkan kemudahan-kemudahan yang akan didapatkan seseorang.
Allah SWT berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ؛ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ؛ فَإِذَا
فَرَغْتَ فَانصَبْ ؛ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب
[٩٤: ٥-٨]
“Karena
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah
kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu
urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya
kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Asy-Syarh/94: 5-8)
Di dalam ayat tersebut juga Allah
menunjukkan bagaiman seseorang dapat selalu mendapatkan kemudahan bahkan pada
sesuatu yang dianggap menyulitkan dengan melakukan dua hal; pertama,
hendaknya seseorang selalu sigap (ayat 7), dan hendaknya ia selalu menjadikan
Allah sebagai tumpuan harapan (ayat 8).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!