Muhammad s.a.w. Sang Penyempurna

Apa yang diungkapkan oleh Aisyah r.a. mengenai akhlak Rasulullah s.a.w., bahwasannya  akhlak beliau adalah Al-Quran, sungguh ungkapan yang berksesuaian dengan keagungan akhlak Rasulullah s.a.w.. Maka gambaran seperti apa yang dapat diungkapkan mengenai sosok yang dirinya merupakan perwujudan apa-apa yang digariskan Al-Quran bagi seorang manusia.

_

Secara bahasa kata akhlak berarti perangai, karakter dan budi pekerti. Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan watak, kepribadian dan sifat seseorang yang tercermin dari perilakunya. Secara istilah dapat dipahami sebagai kejiwaan, karakter dan sifat yang melekat pada seseorang yang akan terwujud dan tampak pada tindak tanduk dan sikapnya. Perilaku dan sikap yang baik merupakan gambaran akhlak seseorang, apakah ia berakhlak baik atau sebaliknya.
Manusia diciptakan dengan dua potensi yang bertentangan, yakni baik dan buruk. Kebaikan tersebut diungkapkan oleh Al-Quran dengan kata ketakwaan.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ؛ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا [٩١: ٧-٨]
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Asy-Syams/91: 7-8)

Perangai merupakan perwujudan dari kedua potensi tersebut, ia menjadi dorongan bagi seseorang dalam menentukan tindakan dan sikapnya sesiai dengan potensi manakah yang lebih dipilih seseorang. Perangai (akhlak) yang baik dikuatkan dengan pondasi fitroh yang melekat pada penciptaan seseorang, yang dengannya jiwa akan terbebas (bersih) dari perwujudan potensi tersebut dan mewujudkan ketakwaan.
Naluri akan selalu cenderung untuk berbuat baik dan memilih potensi kebaikan yang ada pada dirinya. Akan tetapi setiap orang juga akan dihadapkan pada faktor-faktor dan pengaruh buruk (baca: syetan) yang membuatnya justru melakukan tindakan sebaliknya. Setiap jiwa akan merasakan sensasi yang berbeda dari masing-masing perwujudan tersebut, di dalam Al-Quran diungkapkan:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ؛ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا [٩١: ٩-١٠]
“Maka sungguh beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”

Nalar manusia dapat dengan mudah membedakan yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah. Akan tetapi kemampuan nalar itu sendiri belum tentu dapat mendorongnya atau membuatnya memiliki akhlak yang baik. Oleh karena itu tidak jarang seseorang merasa tidak kuasa dalam memerangi dorongan negatif yang terdapat di dalam dirinya meskipun ia memahami bahwa hal itu buruk atau bahkan tidak benar. Oleh karena itulah kemudian Allah mengutus seorang nabi, menyampaikan risalah untuk menyempurnakan kemampuan manusia dalam membina potensi kebaikan tersebut dengan akhlak yang baik. Hal ini dapat dilihat dari apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. sehubungan dengan hal ihwal pengutusannya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ (أخرجه أحمد والبخاري)
“Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

Dari uraian di atas dapat disimpulkan satu kesimpulan mengenai prinsip-prinsip utama yang harus dipegang teguh seseorang dalam rangka membina akhlak, budi pekerti dan perangainya.
Pertama, beragama yang benar; Karena agama adalah fitroh (inti) penciptaan, pelaksanaan dan cara beragama yang benar bisa diibaratkan seperti penggunaan suatu alat sesuai dengan petunjuk pemakaiannya (manual book).  
Kedua, Memerangi syetan; yang merupakan nyata-nyata sebagai musuh manusia yang hanya akan dan selalu berusaha untuk mencelakakan manusia. Syetan akan selalu menghasut manusia untuk selalu menolak dorongan kebaikan, hati nurani dan petunjuk yang datang bahkan di saat seseorang memahami benar apa dan bagaimana konsekuensi yang harus dihadapinya dengan melakukan hal-hal tersebut.


Ketiga, mengikuti dan meneladani Rasulullah s.a.w.; karena beliau sendiri menyampaikan bahwa diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan akhlak yang utama. Mengikuti Rasulullah s.a.w. adalah komitmen untuk selalu meniru, mengikuti dan menurut segala yang datang darinya. Menafikan hal-hal yang seringkali dipandang sebagai variabel yang tidak penting yang dinisbatkan kepada Rasulullah s.a.w. harus diwaspadai oleh seseorang apabila itu berubah menjadi bentuk penolakan penolakan untuk mengikutinya.
Dengan mengikuti Rasulullah s.a.w. ditegaskan oleh Allah SWT sebagai cara untuk mendapatkan cinta (mahabbah) Allah (lih. QS. 3: 31), yang dengan hal itu pula Allah akan merahmatinya dengan akhlak mulia yang tertanam kuat di dalam jiwanya.



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!