Allah SWT berfirman:
وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ
قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ
ضُرٍّ مَّسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٠: ١٢]
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa
kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami
hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat),
seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya
yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang
baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus/10: 12)
Sebut saja seseorang sedang menghadapi satu
momentum yang menentukan, apakah ia berhasil atau sebaliknya, dan ia dapat
menghitung dan memastikan bahwa ia akan dapat meraih hasil yang dimaksud.
Jadwal, bahkan perencanaan setelah momentum tersebut sudah dibuat dan nyaris
tidak ada kemungkinan gagal. Barangkali tidak berlebihan, dalam keadaan seperti
ini, tidaklah sedikit dan atau mungkin – ma’adzallah – tidaklah jarang
kita melewatkan sesuatu yang sangat prinsip dan mendasar, yakni berdo’a.
Seseorang juga bisa jadi berpikir, untuk apa berdoa kalau sesuatu itu sudah
dipastikan terlaksana.
Berdo’a adalah bentuk permintaan sekaligus dzikir
kepada Allah SWT. Seorang hamba yang berdo’a (baca: meminta) merupakan ungkapan
pengakuan akan kefaqiran, kekurangan dan kelemahan yang selalu melekat pada
dirinya di hadapan Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah. Meskipun hal tersebut
diibaratkan seperti gambaran di atas, dengan berdoa dan berdzikir, merupakan
pengakuan akan sifat mutlak kuasa Allah SWT yang menentukan segala sesuatu yang
dapat diraihnya secara keseluruhan.
Ada kecenderungan yang dilakukan manusia untuk
berdoa kepada Allah dalam keadaan susah saja sehingga di saat ia berada dalam
keadaan sebaliknya dan atau kemudian terlepas dari kesusahan tersebut ia tidak
lagi meminta (berdoa) atau mengingat Allah.
Ia tetap sama, sangat faqir di hadapan
Allah dan tidak ada hal yang dapat menjaminnya dari adzab Allah dan atau terhalang
dari segala kehendak Allah. Ia harus menyadari bahwa Allah-lah yang telah
memberikan segala sesuatu, Dialah Rabb semesta alam yang mengatur segala
sesuatu termasuk dirinya dengan segala kehebatannya, yang belum tentu akan
mendatangkan kebaikan kecuali itu dengan izin Allah.
Rasulullah s.a.w. mengatakan, bahwa do’a itu
ibadah itu sendiri* (lih. Riwayat Ahmad No. 18352), dan beliau kemudian
membacakan ayat:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ
لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ
جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [٤٠: ٦٠]
“Dan
Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan
masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir/40: 60)
Kandungan ayat tersebut menunjukkan bahwa meninggalkan
doa adalah sikap takabur yang akan menempatkan seseorang pada kehinaan yang
sangat rendah. Tidak berdoa sama artinya dengan tidak beribadah sementara
tujuan ia diciptakan adalah beribadah.
_
Ketika Allah mencukupkan seseorang untuk segala sifat
kebutuhan yang melekat padanya tidak berarti bahwa seseorang dapat berhenti
berdoa (meminta). Betapa tidak, sikap merasa cukup – terlebih apabila itu
dinisbatkan kepada Allah, bukanlah sesuatu yang akan mengukuhkan bahwa ia tidak
membutuhkan (baca: kekurangan) atas suatu apapun. Di dalam firman-Nya Allah
menggambarkan orang yang bersikap demikian hanya akan dibuat mudah dalam
mendapatkan berbagai kesulitan.
وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ؛ وَكَذَّبَ
بِالْحُسْنَىٰ ؛ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ [٩٢: ٨-١٠]
“Dan
adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup; serta mendustakan
pahala terbaik; maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.”
Dalam kadar yang berbeda, dengan memaknai doa
sebagai dzikir – mengingat Allah, seseorang boleh jadi sangat jarang
melakukannya. Seumpama ia melakukan berbagai aktivitas, melakukan apa saja yang
harus dilakukannya tanpa rintangan apapun dan selalu mendapatkan apa yang dapat
diraihnya dengan sedikit sekali berdoa atau berdzikir kepada Allah, maka
seyogyanya ia berhati-hati dengan sikap tersebut karena hal seperti itu
digambarkan Allah dalam firman-Nya sebagai salah satu sifat orang munafik.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ
اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ
يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا [٤: ١٤٢]
“Sesungguhnya
orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut
Allah kecuali sedikit sekali.” (An-Nisa/4: 142)
Di dalam ayat setelahnya – An-Nisa: 145 – Allah mengabarkan
bahwa tempat orang-orang munafik adalah di bagian neraka yang paling dalam. Na’udzubillah...
* dalam beberapa riwayat disebut dengan
ungkapan“Do’a itu merupakan tulang punggung ibadah,” akan tetapi para ahli
hadits mengatakan bahwa riwayat tersebut gharib.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!