Kedudukan Dzikir dan Dzikir Paripurna

Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah dan paling ringan sekaligus paling mulia dan paling utama. Menggerakkan lisan adalah bentuk gerakan yang paling ringan di antara bentuk gerakan anggota tubuh dan Allah menyediakan anugerah dan pemberian yang tidak dapat dicapai oleh amalan-amalan lain.
Kebutuhan hati akan dzikir merupakan kebutuhan yang lebih besar daripada kebutuhan tubuh akan makanan dan bahaya maksiat atas hati adalah bahaya yang lebih besar daripada bahaya racun atas tubuh. Oleh karena itu Allah tidaklah menetapkan satu hal fardhu pun kecuali padanya ada satu batasan dan memberi keringanan bagi orang yang memiliki udzur untuk memenuhinya. Akan tetapi berbeda dengan dzikir, karena sifat pentingnya, Allah sama sekali tidak menetapkan satu batasan atau udzur yang dapat memberi keringanan bagi seseorang untuk meninggalkannya kecuali bahwa ia memiliki gangguan akal.
_
Oleh karena sangat besarnya manfaat dzikir maka Allah memerintahkan agar kita selalu melakukannya setiap waktu dan dalam segala keadaan, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ؛ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا [٣٣: ٤١-٤٢]
“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab/33: 41-42)


Totalitas Dzikir (adz-Dzikr al-Kamil)
Mencakup lima hal:
a)      Dzikir dengan Nama-Nama Allah dan Sifat-Sifat-Nya; memuji-Nya, mengesakan-Nya dengan Nama-nama dan Sifat-sifat tersebut akan melahirkan pengagungan yang sempurna kepada Allah SWT, rasa cinta dan ketundukan yang sempurna pula.
b)      Dzikir dengan nikmat dan kebaikan Allah SWT; dengannya akan melahirkan sempurnanya rasa cinta, kesempurnaan dalam memuji dan bersyukur kepada Allah SWT sebagai pemberi segala nikmat.
c)      Dzikir dengan segala Qadha dan Qadar Allah SWT; dengannya akan melahirkan ketentraman hati dan ketenangan dalam kaitan dengan segala ketetapan-Nya.
d)     Dzikir dengan agama Allah dan segala yang disyari’atkan-Nya; dengannya akan membawa seorang mukmin untuk beribadah sebagaimana syari’at itu datang dari-Nya dan dari Rasul-Nya s.a.w. dengan kecintaan dan takdhim yang sempurna.
e)      Dzikir akan Pahala dan Adzab Allah; dengan mengingat surga dan neraka akan mendorong jiwa untuk selalu melakukan ketaatan dan selalu menyegerakan kebaikan-kebaikan serta mencegahnya dari melakukan maksiat dan hal-hal yang diharamkan.
_
Totalitas dzikir akan melahirkan keimanan yang sempurna dan amalan yang sempurna pula. Dan balasan untuk itu adalah surga Na’im yang sempurna. Sebagaimana Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ ؛ نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ؛ نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ [٤١: ٣٠-٣٢]
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat/41: 30-32)

Sumber: Mausu’ah al-Fiqh al-Islamiy, At-Tuwaijiri


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!