Artikel ini hendak mengupas berbagai hikmah yang dapat
dipahami dari shalat dan bagaimana sifat seseorang dalam menunaikannya dalam
kaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Kepribadian, pekerjaan, cara bersosial
dan termasuk tindakan ekonomi merupakan hal-hal yang dapat tercermin dari
bagaimana sifat dan kecenderungan seseorang dalam shalatnya. Apa yang hendak
dikupas adalah termasuk dari sifat yang sangat prinsip, yakni ketika shalat
diabaikan. Maka penting sekali untuk dipahami dengan sungguh-sungguh bahwa shalat merupakan tolok ukur segala aspek keberagamaan seseorang.
Di dalam suatu hadits dikatakan:
أَوَّلُ مَا
يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ صَلاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ
وَإِنْ فَسَدَتْ صَلاتُهُ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ (رواه الترمذي)
“Hal pertama yang akan dihisab atas seorang hamba pada
hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka baiklah seluruh
amalannya dan apabila shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalannya.”
(Riwayat Thabrani)
Satu kesimpulan sederhana dari hadits di atas adalah
bahwa tidak mungkin orang yang shalatnya tidak baik akan dapat melakukan amal
shaleh dengan baik. Maksud ini bukanlah apa yang tersirat dari hadits
Rasulullah s.a.w. yang menyebutkan bahwa ada kelompok orang yang membuat orang
beriman merasa buruk dengan shalat mereka (lih. hadits Bukhari No. 6931 dan Muslim No. 1064), melainkan bahwa shalat merupakan tolok ukur baik-buruknya kualitas hidup seseorang.
Disebutkan di dalam Al-Quran:
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ
أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [١٩: ٥٩]
“Maka datanglah sesudah mereka,
pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa
nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (Maryam/19: 59)
Menyia-nyiakan shalat merupakan salah satu bentuk yang
paling nyata adalah meninggalkannya yang hal itu boleh jadi dilakukan dengan
dasar pengetahuan mengenai shalat itu sendiri. Al-Quran menggunakan kata
menyia-nyiakan, dalam arti sebagai suatu sumber daya besar atau potensi
kebaikan, yang tak lain dikarenakan demi mengikuti hawa nafsu. Atau bentuk
lainnya seperti kecenderungan dalam menunaikannya secara asal, seenaknya atau
tanpa berusaha untuk meningkatkan kualitas shalatnya.
Sikap menyia-nyiakan tersebut tak akan jauh berbeda
dengan segala bentuk kebaikan yang dilakukan seseorang dalam hidupnya, ia akan
cenderung menyia-nyiakan banyak sumber daya, potensi dan nikmat yang
dimilikinya pada sesuatu yang tidak berguna sama sekali atau tidak membawa
kebaikan hidup. Dalam arti meninggalkan shalat, selain gambaran di atas, dapat
pula dipahami dari apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. yang menegaskan
kedudukan shalat sebagai tiang agama, maka segala amal shaleh atau kebaikan
seseorang akan cenderung tidak cukup memiliki penyangga yang kuat sehingga ia
akan cenderung tidak konsisten, lemah pendirian atau tidak dapat secara tuntas
menunaikannya.
Gambaran lainnya adalah apa yang diungkapkan di dalam
surat Al-Ma’un:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ؛ الَّذِينَ
هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ؛ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ؛ وَيَمْنَعُونَ
الْمَاعُونَ
[١٠٧: ٤-٧]
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang
yang shalat; (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya; orang-orang yang
berbuat riya; dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Al-Ma’un/107: 4-7)
Di sini digambarkan mengenai orang yang shalatnya tidak
berguna sama sekali, yakni bukannya ia mendapatkan kebaikan dari shalatnya
justru menjadi celaka. Shalat yang demikian adalah yang cenderung lalai dengan
shalatnya, menunaikannya hanya karena mengharap penilaian baik dari orang lain
dan cenderung selfistik (tidak peduli dengan kesusahan orang lain). Sifat-sifat
yang diungkapkan di dalam ayat tersebut sangat identik dengan karakter orang
munafik, yang karena kecenderungannya hanya sebatas cari muka ia hanya akan
diperlakukan sebelah mata atau dimanfaatkan saja oleh orang-orang yang berhubungan
dengannya.
_
Apabila kebaikan, kiprah, pendidikan, karir, pekerjaan, kekayaan
dan hal-hal lain yang cenderung mendatangkan manfaat bagi orang banyak ternyata
hanya akan memberikan hal sebaliknya tentu bukan kondisi yang diharapkan dan
sangat mengerikan.
Maka di antara rangkaian mengenai orang-orang yang
beruntung (yakni orang beriman) dengan shalatnya adalah mereka yang dapat
menjaga shalat-shalatnya.
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ
يُحَافِظُونَ [٢٣: ٩]
“... dan orang-orang yang memelihara
shalatnya.” (Al-Mukminun/23: 9)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!