Shalatmu adalah Cara Hidupmu (1)

Artikel ini hendak mengupas berbagai hikmah yang dapat dipahami dari shalat dan bagaimana sifat seseorang dalam menunaikannya dalam kaitan dengan berbagai aspek kehidupan. Kepribadian, pekerjaan, cara bersosial dan termasuk tindakan ekonomi merupakan hal-hal yang dapat tercermin dari bagaimana sifat dan kecenderungan seseorang dalam shalatnya. Apa yang hendak dikupas adalah termasuk dari sifat yang sangat prinsip, yakni ketika shalat diabaikan. Maka penting sekali untuk dipahami dengan sungguh-sungguh bahwa shalat merupakan tolok ukur segala aspek keberagamaan seseorang.

Di dalam suatu hadits dikatakan:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ صَلاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ صَلاتُهُ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ (رواه الترمذي)
“Hal pertama yang akan dihisab atas seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya dan apabila shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalannya.” (Riwayat Thabrani)
_

Satu kesimpulan sederhana dari hadits di atas adalah bahwa tidak mungkin orang yang shalatnya tidak baik akan dapat melakukan amal shaleh dengan baik. Maksud ini bukanlah apa yang tersirat dari hadits Rasulullah s.a.w. yang menyebutkan bahwa ada kelompok orang yang membuat orang beriman merasa buruk dengan shalat mereka (lih. hadits Bukhari No. 6931 dan Muslim No. 1064), melainkan bahwa shalat merupakan tolok ukur baik-buruknya kualitas hidup seseorang.
Disebutkan di dalam Al-Quran:
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا [١٩: ٥٩]
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,” (Maryam/19: 59)
Menyia-nyiakan shalat merupakan salah satu bentuk yang paling nyata adalah meninggalkannya yang hal itu boleh jadi dilakukan dengan dasar pengetahuan mengenai shalat itu sendiri. Al-Quran menggunakan kata menyia-nyiakan, dalam arti sebagai suatu sumber daya besar atau potensi kebaikan, yang tak lain dikarenakan demi mengikuti hawa nafsu. Atau bentuk lainnya seperti kecenderungan dalam menunaikannya secara asal, seenaknya atau tanpa berusaha untuk meningkatkan kualitas shalatnya.
Sikap menyia-nyiakan tersebut tak akan jauh berbeda dengan segala bentuk kebaikan yang dilakukan seseorang dalam hidupnya, ia akan cenderung menyia-nyiakan banyak sumber daya, potensi dan nikmat yang dimilikinya pada sesuatu yang tidak berguna sama sekali atau tidak membawa kebaikan hidup. Dalam arti meninggalkan shalat, selain gambaran di atas, dapat pula dipahami dari apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. yang menegaskan kedudukan shalat sebagai tiang agama, maka segala amal shaleh atau kebaikan seseorang akan cenderung tidak cukup memiliki penyangga yang kuat sehingga ia akan cenderung tidak konsisten, lemah pendirian atau tidak dapat secara tuntas menunaikannya.
Gambaran lainnya adalah apa yang diungkapkan di dalam surat Al-Ma’un:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ؛ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ؛ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ؛ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
[١٠٧: ٤-٧]
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat; (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya; orang-orang yang berbuat riya; dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Al-Ma’un/107: 4-7)
Di sini digambarkan mengenai orang yang shalatnya tidak berguna sama sekali, yakni bukannya ia mendapatkan kebaikan dari shalatnya justru menjadi celaka. Shalat yang demikian adalah yang cenderung lalai dengan shalatnya, menunaikannya hanya karena mengharap penilaian baik dari orang lain dan cenderung selfistik (tidak peduli dengan kesusahan orang lain). Sifat-sifat yang diungkapkan di dalam ayat tersebut sangat identik dengan karakter orang munafik, yang karena kecenderungannya hanya sebatas cari muka ia hanya akan diperlakukan sebelah mata atau dimanfaatkan saja oleh orang-orang yang berhubungan dengannya.
_

Apabila kebaikan, kiprah, pendidikan, karir, pekerjaan, kekayaan dan hal-hal lain yang cenderung mendatangkan manfaat bagi orang banyak ternyata hanya akan memberikan hal sebaliknya tentu bukan kondisi yang diharapkan dan sangat mengerikan.
Maka di antara rangkaian mengenai orang-orang yang beruntung (yakni orang beriman) dengan shalatnya adalah mereka yang dapat menjaga shalat-shalatnya.
وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ [٢٣: ٩]
“... dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (Al-Mukminun/23: 9)



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!