Stand With Palestine

Allah SWT berfirman:
إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَىٰ وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا [٤٨: ٢٦]
“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Fath/48: 26)
_

Sejak Rasulullah s.a.w. datang dengan risalah yang dibawanya, orang-orang kafir – terutama dari kalangan Ahli Kitab – sangat nyata kebenciannya dan selalu menunjukkannya dengan sikap dan tindakan-tindakan tidak terpuji. Bahkan di saat mereka terlibat dalam perjanjian damai sekalipun, atau bentuk kesepahaman lain, kecenderungan selalu melekat dan sama sekali tidak menunjukkan i’tikad baik. Apa yang terdapat dalam perjanjian Hudaibiyah, sikap Ahli Kitab di Madinah dan sikap mereka sampai kini sekalipun, mereka sangat dikuasai oleh rasa permusuhan yang dilatarbelakangi kedengkian dan kerakusan yang sangat besar.
Satu hal yang paling mendasar yang melatarbelakangi sikap tersebut adalah kesesatan dalam berketuhanan yang mereka pegang teguh. Prinsip ketuhanan mereka direstorasi dengan nalar-nalar materialisme dan keangkuhan sehingga apa yang dilakukannya bukanlah mengikuti kebenaran melainkan melakukan pembenaran-pembenaran belaka. Pembenaran tersebut tak lain dilakukan karena ketidakmampuan nalar mereka untuk sepenuhnya menolak kebenaran Islam dan atau sekedar memberikan jawaban jujur akan kekeliruan (baca: kesesatan) sendiri.
Umat Islam dunia kini tengah digegerkan oleh sikap seorang presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memutuskan untuk memindahkan kedutaannya di Jerussalem yang dimaksudkan sebagai pengakuan atas Jerussalem sebagai ibu kota Israel. Trump menyebut-nyebut bahwa kebijakannya, dengan menilai lemah presiden-presiden terdahulunya, yang akan dapat mewujudkan perdamaian di Jerussalem.
Trump tentunya dapat membidik berbagai keuntungan yang bisa dia dapatkan dengan kebijakan sepihak yang dibuatnya atas Jerussalem. Ia tak lebih dari sosok yang kehilangan eksistensi diri, yang berharap mendapatkan eksistensinya dengan tindakan spektakuler tanpa pertimbangan akal sehat atau menghormati kedaulatan dan kemanusiaan. Sikapnya nyata-nyata menunjukkan keberpihakan pada satu pandangan politik yang hanya didasarkan pada superioritas etnis dengan berbagai kebijakan agresif dan tidak manusiawi. Sekali lagi hal itu dilakukannya demi kepentingan akan kekuatan Zionisme yang begitu kuat mengakar di negerinya sendiri. Alih-alih ia dapat mengatasi persoalan tersebut di negerinya sendiri, Trump mengambil langkah pengecut dan tidak bermartabat, dengan klaim yang seharusnya dapat dipertanggungjawabkan kepada bangsa-bangsa di dunia.
Dengan mengatasnamakan perdamaian (maslahah) ia menyulut genderang perang. Ia mengesankan tegak berdiri di barisan ahli kitab seperti kaum munafik yang menjanjikan perjuangan sampai mati atau terusir, padahal itu hanya sebuah kepentingan yang hanya akan membuatnya tak jauh dari sikap yang digambarkan Allah SWT:
لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِن قُوتِلُوا لَا يَنصُرُونَهُمْ وَلَئِن نَّصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ [٥٩: ١٣]
“Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya; sesungguhnya jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang; maka mereka tidak mendapat pertolongan apapun.” (Al-Hasyr/59: 12)
Seorang rabbi di Inggris pernah mengungkapkan bahwa Zionisme dan para pendukung zionisme “tidak sesuai” dengan pemikiran termurni Yudaisme, dan bahwa pertikaian saat ini dengan warga Palestina “merusak” masyarakat Israel sendiri. Ia menambahkan bahwa, “berbagai hal telah terjadi setiap hari yang membuat saya merasa sangat tak nyaman sebagai seorang Yahudi.”
Apa yang dilakukan Trump dengan sikap politiknya merupakan pembenaran atas rasisme dan tindakan-tindakan genosida yang berlangsung cukup lama, hanya akan menambah buruk citra Yudaisme dan para penganutnya. Sementara di lain pihak, yakni kaum muslimin sedunia dan bangsa-bangsa yang memiliki pandangan yang selaras (kalimah sawa), adalah kekuatan umat terbaik (khairu ummah) yang memiliki ideologi yang satu dan satu urusan yang sama dengan kekuatan yang tidak akan dapat dinalar Trump.


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!