Rutinitas pekerjaan, tuntutan dan permasalahan yang
datang silih berganti, atau bahkan sesuatu yang tidak bersalah sekalipun dapat
menjadi persoalan ketika seseorang dihinggapi dengan kejenuhan dan kelelahan.
Pekerjaan seyogyanya menjadi sesuatu yang menyenangkan apabila hal tersebut
dilihat dari sudut pandang yang benar. Kekeliruan pertama menyangkut pekerjaan
adalah ketika orang melihatnya sebagai beban dan tuntutan yang memberatkan
saja. Kondisi seperti ini seringkali disebut dengan ungkapan tidak dapat
menikmati hidup.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut kemudian muncullah
istilah refreshing, suatu ungkapan sederhana untuk aktivitas yang
diyakini akan mengembalikan kesegaran, dalam arti secara harfiah. Kini cukup
marak tradisi traveling, yang sebelumnya lebih dikenal dengan istilah
tamasya, clubing, atau berbagai aktivitas lain yang diyakini dapat
membebaskan seseorang dari kondisi menjemukan dan melelahkan yang melekat pada
rutinitas hidupnya. Faktanya, banyak mengemuka bahwa demi kegiatan refreshing
tersebut kemudian para pegawai terlambat masuk kerja, mengabaikan banyak
kewajiban dan justru kemudian memiliki beban tambahan karena pengeluaran yang
berlebihan, permasalahan yang timbul karena kegiatan itu sendiri seperti
melakukan hal-hal yang tidak pantas atau melanggar hukum, atau berbagai
kecenderungan berlebihan yang biasa dilakukan dalam rangka refreshing
tersebut. Alih-alih mendapatkan suasana baru dan sigap dengan kesegaran, refreshing
justru menjadikan seseorang lebih sulit dalam menikmati pekerjaan atau
rutinitas hidupnya sendiri.
Pekerjaan, sebagai satu contoh saja, di samping banyak
hal lainnya yang menjadi bagian dari hidup seseorang yang seringkali membuatnya
menginginkan satu moment refreshing, dalam konteks hidup seorang yang
beriman dikenal dengan istilah ikhtiyar. Kata tersebut identik dengan
suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu maksud atau tujuan. Dalam ungkapan
lain istilah ini dapat dipadankan dengan istilah amal, yang di dalam
Al-Quran diindikasikan sebagai sesuatu yang akan mendatangakan kesenangan.
Allah SWT berfirman:
وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ [٣: ١٣٦]
“Dan alangkah menyenangkan pahala orang-orang yang
beramal.” (Ali Imran/3: 136)
Apakah memang suatu amal (baca: pekerjaan) selalu
menyenangkan? Seyogyanya memang demikian. Merupakan sunnatullah yang
melekat pada setiap orang dengan pekerjaannya karena dalam pekerjaan tersebut
tersimpan satu hal yang sangat berharga, sebagai peran seseorang yang akan
memberinya makna hidup. Akan tetapi di sisi lain ada berbagai batasan yang
seringkali diabaikan manusia sehingga ia mendapatkan pekerjaan tidak lagi
menyenangkan melainkan menjemukan, melelahkan dan bahkan membuatnya menderita. Salah
satu faktor yang menciptakan suasana tersebut adalah batasan rasa segar, nyaman
dan menyenangkan dalam melakukan suatu pekerjaan tersebut ternyata diabaikan. Ada
kecenderungan yang seringkali menempatkan manusia dengan pekerjaannya tak
ubahnya seperti mesin atau robot tanpa jiwa.
_
Bagi orang yang beriman Allah telah menyediakan satu
fasilitas yang sangat istimewa yang dapat menjawab persoalan tersebut, yakni
shalat. Shalat yang Allah tetapkan sebagai suatu kefardhuan (baca: kenisbian)
dalam putaran rutinitas hariannya, Allah sendiri menegaskannya sebagai satu
ketetapan yang ditentukan waktunya (lih. QS 4: 103). Penentuan waktu shalat sarat
dengan hikmah yang salah satunya adalah hikmah kembalinya kesegaran, rasa
nyaman dan menyenangkan pada tubuh (Arab: راح), yang darinya dikenal satu kata
yang nyata-nyata menunjukkan hal tersebut, yakni kata istirahat. Kata ini di
dalam Bahasa Arab sendiri menggunakan wazan yang berfungsi untuk
meminta, sehingga dari kata tersebut dapat dipahami arti meminta kesegaran atau
mengembalikan kesegaran (baca: refreshing).
Apa yang mempertegas hal tersebut adalah apa yang suatu
ketika dikatakan Rasulullah s.a.w. kepada seorang shahabat yang istimewa, Bilal
bin Rabbah r.a., beliau mengatakan:
يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا
بِهَا (رواه أبو داود – صححه الباني)
“Hai Bilal, dirikanlah shalat. Kita akan kembali segar
dengannya.” (Riwayat Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Bani)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!