Tahukah Anda, Bahwa Anda akan Mendapatkan Refreshing dari Shalat

Rutinitas pekerjaan, tuntutan dan permasalahan yang datang silih berganti, atau bahkan sesuatu yang tidak bersalah sekalipun dapat menjadi persoalan ketika seseorang dihinggapi dengan kejenuhan dan kelelahan. Pekerjaan seyogyanya menjadi sesuatu yang menyenangkan apabila hal tersebut dilihat dari sudut pandang yang benar. Kekeliruan pertama menyangkut pekerjaan adalah ketika orang melihatnya sebagai beban dan tuntutan yang memberatkan saja. Kondisi seperti ini seringkali disebut dengan ungkapan tidak dapat menikmati hidup.
_
Foto: PDL2018 PP Al-Manaar

Untuk mengatasi permasalahan tersebut kemudian muncullah istilah refreshing, suatu ungkapan sederhana untuk aktivitas yang diyakini akan mengembalikan kesegaran, dalam arti secara harfiah. Kini cukup marak tradisi traveling, yang sebelumnya lebih dikenal dengan istilah tamasya, clubing, atau berbagai aktivitas lain yang diyakini dapat membebaskan seseorang dari kondisi menjemukan dan melelahkan yang melekat pada rutinitas hidupnya. Faktanya, banyak mengemuka bahwa demi kegiatan refreshing tersebut kemudian para pegawai terlambat masuk kerja, mengabaikan banyak kewajiban dan justru kemudian memiliki beban tambahan karena pengeluaran yang berlebihan, permasalahan yang timbul karena kegiatan itu sendiri seperti melakukan hal-hal yang tidak pantas atau melanggar hukum, atau berbagai kecenderungan berlebihan yang biasa dilakukan dalam rangka refreshing tersebut. Alih-alih mendapatkan suasana baru dan sigap dengan kesegaran, refreshing justru menjadikan seseorang lebih sulit dalam menikmati pekerjaan atau rutinitas hidupnya sendiri.
Pekerjaan, sebagai satu contoh saja, di samping banyak hal lainnya yang menjadi bagian dari hidup seseorang yang seringkali membuatnya menginginkan satu moment refreshing, dalam konteks hidup seorang yang beriman dikenal dengan istilah ikhtiyar. Kata tersebut identik dengan suatu usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu maksud atau tujuan. Dalam ungkapan lain istilah ini dapat dipadankan dengan istilah amal, yang di dalam Al-Quran diindikasikan sebagai sesuatu yang akan mendatangakan kesenangan.
Allah SWT berfirman:
وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ [٣: ١٣٦]
“Dan alangkah menyenangkan pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imran/3: 136)
Apakah memang suatu amal (baca: pekerjaan) selalu menyenangkan? Seyogyanya memang demikian. Merupakan sunnatullah yang melekat pada setiap orang dengan pekerjaannya karena dalam pekerjaan tersebut tersimpan satu hal yang sangat berharga, sebagai peran seseorang yang akan memberinya makna hidup. Akan tetapi di sisi lain ada berbagai batasan yang seringkali diabaikan manusia sehingga ia mendapatkan pekerjaan tidak lagi menyenangkan melainkan menjemukan, melelahkan dan bahkan membuatnya menderita. Salah satu faktor yang menciptakan suasana tersebut adalah batasan rasa segar, nyaman dan menyenangkan dalam melakukan suatu pekerjaan tersebut ternyata diabaikan. Ada kecenderungan yang seringkali menempatkan manusia dengan pekerjaannya tak ubahnya seperti mesin atau robot tanpa jiwa.
_

Bagi orang yang beriman Allah telah menyediakan satu fasilitas yang sangat istimewa yang dapat menjawab persoalan tersebut, yakni shalat. Shalat yang Allah tetapkan sebagai suatu kefardhuan (baca: kenisbian) dalam putaran rutinitas hariannya, Allah sendiri menegaskannya sebagai satu ketetapan yang ditentukan waktunya (lih. QS 4: 103). Penentuan waktu shalat sarat dengan hikmah yang salah satunya adalah hikmah kembalinya kesegaran, rasa nyaman dan menyenangkan pada tubuh (Arab: راح), yang darinya dikenal satu kata yang nyata-nyata menunjukkan hal tersebut, yakni kata istirahat. Kata ini di dalam Bahasa Arab sendiri menggunakan wazan yang berfungsi untuk meminta, sehingga dari kata tersebut dapat dipahami arti meminta kesegaran atau mengembalikan kesegaran (baca: refreshing).
Apa yang mempertegas hal tersebut adalah apa yang suatu ketika dikatakan Rasulullah s.a.w. kepada seorang shahabat yang istimewa, Bilal bin Rabbah r.a., beliau mengatakan:
يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا (رواه أبو داود – صححه الباني)
“Hai Bilal, dirikanlah shalat. Kita akan kembali segar dengannya.” (Riwayat Abu Daud, dishahihkan oleh Al-Bani)



Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!