Hati-hati dengan Hatimu

Rasulullah s.a.w. mengatakan:

أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ. أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري ومسلم وغيرهما)
“ingatlah bahwa pada tubuh itu terdapat segumpal daging! Jika ia sehat, maka sehatlah seluruh bagian tubuh (lainnya). Dan apabila ia sakit, maka sakitlah seluruh bagian tubuh (lainnya). Ingatlah, bagian itu adalah hati.”
_
Wallahu a’lam, apakah yang dikatakan Rasulullah s.a.w. itu menyangkut kesehatan tubuh secara fisik atau jiwa, yang pasti bahwa penyakit hati (atau hati yang sakit) bukanlah bukan sakit ringan atau mudah untuk diobati. Jikapun itu menyangkut tubuh secara fisik sekalipun, apa yang diungkapkan Rasulullah s.a.w. banyak menunjukkan bahwa sumber penyakit itu tidak melulu disebabkan karena gangguan tubuh secara fisik saja. Hati, dapat juga dipahami secara materil atau yang lainnya seperti perasaan, kejiwaan, pikiran dan lain sebagainya, akan menentukan sehat dan tidaknya seseorang.
Penyakit hati dapat dipahami sebagai pikiran dan ungkapan perasaan yang tidak sehat secara sewajarnya, atau secara syar’i, itu menyangkut hal-hal yang tidak benar dari sikap manusia secara bathiniyah. Takabbur, ujub, riya, sum’ah, hasad, kikir, panjang angan-angan dan lain-lainnya, seringkali bersemayam dan diperturutkan oleh manusia bahkan cenderung didewakan. Uniknya, orang dengan penyakit hati dan cenderung mendewakan atau menuhankannya cenderung tidak menyadari keadaan sakitnya.
Allah SWT berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ [٤٥: ٢٣]
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya (sesat) berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Al-Jatsiyah/45: 23)

Di dalam Al-Quran, ungkapan mengenai orang-orang yang hatinya berpenyakit ( في قلوبهم مرض ) selalu berbicara tentang orang-orang munafik, yakni kelompok orang yang kelak akan ditempatkan di bagian terdalam dari neraka (QS. 4: 145). Bahkan orang munafik sekalipun tidak akan suka untuk dikatakan bahwa mereka munafik. Oleh karena itu salah satu kecenderungan mereka setiap kali dibukakan mengenai jatidirinya mereka selalu bersumpah dan mempersaksikannya atas nama Allah. Akan tetapi karena hati mereka telah berkarat, bahkan permohonan ampun dari orang-orang beriman untuk mereka sama sekali tidak akan berpengaruh baik kepada mereka.
‘Ujub dan takabbur, dapat dengan mudah menguasai seseorang bahkan di saat hal itu menyangkut kepentingan yang sangat sepele sekalipun. Ibarat orang yang tidak menerima ketika diingatkan oleh seseorang yang dipandangnya lebih rendah dari dirinya, ia akhirnya celaka karena tidak mendengar akan peringatan tersebut. Riya dan sum’ah, benar-benar mengerikan bagi seseorang apabila ia selalu menghias segala kebaikannya demikian karena justru yang sebenarnya apa yang dilakukannya sama sekali tidak bernilai kebaikan di sisi Allah bahkan Allah sangat murka dengannya karena sikap tersebut termasuk menyekutukan Allah SWT. Hasud, kikir dan panjang angan-angan, akan cenderung membuainya dalam kelalaian dan menjadi dorongan kuat untuk mendzalimi orang lain.
Dari sudut pandang hati yang bernyakit, hal-hal baik bisa tampak sebagai hal yang dapat merugikan dan sebaliknya ketika melihat keburukan. Ia bisa dengan mudah mencari-cari alasan, memunculkan kesan baik dan berkilah dari sesuatu, tapi satu gambaran yang pasti bahwa kelak apa yang diraih dan dimilikinya sama sekali tidak memiliki kegunaan sekalipun.
Indikasi hati yang berpenyakit salah satunya dapat dilihat dari cara seseorang bersedekah. Dengan memahami keluasan makna dan bentuk sedekah yang dapat dilakukan seseorang, Allah menggambarkan bahwa segala bentuk sedekah tersebut dapat dengan serta merta hilang dan tidak bernilai sama sekali. Perumpamaan tersebut diungkapkan dalam firman-Nya:

كَالَّذِي يُنفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا [٢: ٢٦٤]
“..., seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah), ...” (Al-Baqarah/2: 264)

_

Segala potensi, bukan hanya harta-benda, yang ada pada seseorang – bahkan dengan menahan diri dari berbuat buruk sekalipun – memiliki nilai sedekah. Banyak motif yang akan mendorong seseorang untuk mengumbar ‘sedekah’-nya dan atau menyinggung orang lain dengan hal tersebut ternyata serta merta membuatnya hilang sama sekali bahkan dapat berbalik menjadi keburukan. Ma’adzallah, kesemua itu tak lain berawal dari penyakit hati yang secara umum dapat diasumsikan sebagai ketidakikhlasan.
Tanpa dasar ikhlas sehebat apapun kebaikan seseorang maka hal tersebut tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah SWT. Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ؛ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ [٢٦: ٨٨-٨٩]
“Di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara/26: 88-89)





Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!