Doa Anti Galau, Agar Terbebas dari Kesusahan, Beban Utang dan Gangguan Orang; GUARANTED!


Bahwa segala sesuatu adalah baik bagi orang yang beriman, dan hal inilah yang oleh Rasulullah s.a.w. diungkapkan sebagai hal yang mengagumkan (ajaib) dari orang beriman. Allah SWT mengungkapkan karakter istimewa hamba-hamba-Nya tersebut diungkapkan dalam Firman-Nya:

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا [٢٥: ٦٣]
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil mengatai mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan/25: 63)
_
Kata “haun” (rendah hati) di dalam ayat tersebut, oleh Ibnu Katsir diartikan sebagai sikap tenang dan berwibawa dan bukannya sikap kaku (suka memaksa) ataupun angkuh. Di dalam ayat tersebut diungkapkan, bahkan ketika ia dikatai, dibodohi, atau diperolok oleh orang bodoh, ia menghadapinya dengan damai (salam) tanpa membalas perilaku buruk yang didapatinya dari orang tersebut.
Ketenangan di sini tidak berarti lemah, melainkan bahwa seseorang harus selalu bisa menguasai dirinya bahkan di saat datang satu cercaan yang menyinggung dirinya atau memancing untuk bersikap emosional. Dalam pengertian yang lebih luas, sikap emosional adalah sikap lepas kendali karena adanya hal-hal yang cenderung tidak bisa diterima oleh seseorang.
Kunci ketenangan adalah kejernihan hati dan pikiran untuk selalu dapat memilah  sikap yang lebih baik daripada sikap-sikap yang cenderung dilakukan manusia umumnya secara emosional. Kemarahan, putus asa, kegundahan atau sikap-sikap destruktif yang cenderung dilakukan bukannya tidak dipahami ihwal keburukannya. Setelah selesai dengan sikap-sikap selalu diikuti dengan rasa penyesalan atau bahkan dapat berupa penyesalan yang tidak berkesudahan ketika sikap tersebut diungkapkan dengan perilaku yang merugikan, merusak, dan atau menjatuhkan korban.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدِّينِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ (رواه البخاري وغيره)
Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazan, wal ‘ajzi wal kasal, wal bukhli wal jubn, wa dhala’id daeni wa ghalabatir rijaal
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kecemasan, dari lemah dan malas, dari bakhil dan sifat penakut, dari beban hutang dan ditundukkan orang.” (Riwayat Bukhari dan perawi lainnnya)
_

Atau dengan do’a yang dikaitkan dengan Al-Quran (yang merupakan penyembuh segala penyakit hati), Rasulullah s.a.w. mengajarkan do’a berikut dan beliau menekankan agar do’a disebarluaskan:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ بَصَرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي
Allahumma innii abduka, ibnu abdika, ibnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ad-lun fiyya qahaa-uka, as-aluka bikullismin huwa laka, sammaita bihii nafsaka, au anzaltahu fii kitaabika, au ‘allamtahu ahadan min khalqika, awis-ta’tsarta bihi fii ilmil ghaibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana rabii’a qalbii, wa nuura shadrii, wajalaa-a huznii wa dzahaaba hammii
“Ya Allah..., sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu, anak dari abdi-abdi-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu,  yang berlaku padaku adalah hukum-Mu, yang adil untukku adalah keputusan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan semua Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamai diri dengannya, yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, yang Engkau ajarkan kepada seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau siratkan pada ilmu-ilmu ghaib di sisi-Mu, agar menjadikan Al-Quran sebagai bunga hatiku, sebagai pelita hatiku, sebagai pelipur lara dan menghilangkan kesedihanku.”

Yang oleh Rasulullah s.a.w. kemudian ditegaskan:

إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَ حُزْنِهِ فَرَحًا
“tiada lain kecuali Allah akan menghilangkan kegelisahannya, akan menukarkan kesedihannya dengan kesenangan.” (Riwayat Ahmad, Thabrani dan Ibnu Hibban)




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!