Syirik, Dosa yang Tidak Terampuni


Mengesakan Allah (tauhidullah) merupakan satu pondasi keselematan jiwa, akal dan kehidupan seorang hamba. Hal ini merupakan prinsip utama keimanan, yang Rasulullah s.a.w. dan para nabi terdahulu (‘alaihimus salam) diutus Allah diutus dengannya.
_
Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ [٢٥: ٢٥]
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".” (QS. Al-Anbiya/25: 25)

Syari’at para nabi dan rasul ‘alaihimussalam yang disampaikan kepada masing-masing umatnya berbeda-beda bahkan terbatas pada ruang lingkup dan kurun waktu tertentu. Akan tetapi perintah untuk mengesakan Allah (tauhid) dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun adalah risalah para nabi secara keseluruhan.
Risalah tersebut diungkapkan dengan mendahulukan penolakan pada (nafy) atas bentuk “penuhanan” terhadap segala segala sesuatu selain Allah. Maka dengan mengimani Allah sebagai Tuhan (ilah) yang hak, jika manusia kembali mengakui hal-hal yang semula dinafikan adalah kebodohan yang sangat nyata. Sebagai suatu kebodohan, maka tidak sedikit orang yang berbuat syirik justru merasa dirinya tetap berada dalam keimanan. Padahal Allah menempatkan dosa syirik sebagai dosa yang tidak termaafkan.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا [٤: ٤٨]
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang sangat besar.” (An-Nisa/4: 48)

Ketika turun ayat yang menyebutkan, “... janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya” (39: 53), sehingga di antara para shahabat ada yang bertanya, apakah itu termasuk dosa syirik, maka Rasulullah s.a.w. menjawab pertanyaan tersebut dengan ayat ini.
Ath-Thabari memaknai kandungan ayat ini lebih luas lagi, yakni bahwasannya Allah tidak mengampuni dosa-dosa yang disertai sifat syirik dan dosa syirik itu sendiri, sehingga dapat dipahami dengannya bahwa dosa syirik itu tidak hanya terdapat dalam sifat penyembahan semata melainkan pada aspek-aspek ibadah dan kebaikan manusia yang dalam perbuatannya dimaksudkan tidak secara ikhlas kepada Allah.
Ikhlas merupakan manifestasi ketauhidan yang merupakan pokok ibadah atau keberagamaan seseorang sebagaimana bentuk penegasan Allah:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ [٩٨: ٥]
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan  memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, ...” (Al-Bayyinah/98: 5)
_
Bentuk mempersekutukan Allah ada dua bentuk: pertama, mempersekutukan dalam uluhiyah; yaitu sifat mempersekutukan Allah dalam kaitan dengan nisbat-nisbat ketuhanan yang seharusnya hanya dinisbatkan kepada Allah. Dan sebagaimana disebutkan dalam istilah lain sifat mensekutukan Allah dalam Sifat dan Asma-Asma-Nya.
Kedua, mempersekutukan dalam rububiyah; yaitu sifat mempersekutukan Allah dalam hal-hal yang berkaitan dengan segala ketentuan hukum Allah seperti halal-haram, ketaatan dan penghambaan.


Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!