Larangan Mengatakan Lupa Dengan Ayat Al-Quran



_
Satu dari keistimewaan Al-Quran adalah bahwa dari makhluk apapun, dan meskipun seluruh makhluk itu bahu-membahu satu sama lainnya, tidak akan ada yang dapat membuat semacam satu surah-pun dari Al-Quran. Maka pertanyaannya adalah, urusan apakah itu yang dapat memalingkan seseorang dari Al-Quran sehingga ia “terlupa” dengan ayat-ayatnya?

Allah SWT berfirman:

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ [٥٥: ٣٦]
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”

Atau di dalam ayat lain diungkapkan:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ [١٠: ٥٨]
“Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".” (Yunus/10: 58)

Bagi orang yang telah menghapal Al-Quran baik secara keseluruhan maupun sebagian, barangkali pernah terlontar satu perkataan pada satu saat ketika ia tidak dapat membaca ayat yang telah dihapalnya; “aku lupa ayat ini.”  An-Nawawi mengatakan bahwa perkataan tersebut sangat tidak dianjurkan (makruh) dengan dasar apa yang telah dikatakan Rasulullah s.a.w. tentang hal tersebut:

بِئْسَ مَا لِأَحَدِهِمْ أَنْ يَقُولَ نَسِيتُ آيَةَ كَيْتَ وَكَيْتَ، بَلْ نُسِّيَ وَاسْتَذْكِرُوا القُرْآنَ، فَإِنَّهُ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ مِنَ النَّعَمِ بِعُقُلِهَا (رواه البخاري ومسلم)
“Alangkah buruknya seseorang yang mengatakan aku lupa akan ayat ini dan ayat itu, tetapi sesungguhnya ia telah dijadikan lupa (oleh Allah). Dan hendaklah ia mengingat-ingat (hapalan) Al-Quran, karena sesungguhnya itu lebih mudah terlepas dari hati seseorang daripada binatang ternak dengan ikatannya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Karena dengan mengatakan demikian merupakan sikap yang terkesan merendahkan kalam Allah (Al-Quran) dan cenderung mengabaikannya setelah Allah mengajarkannya kepadanya. Al-Qadhi ‘Iyadh mengatakan bahwa takwil hadits tersebut sebenarnya bukan mencaci perkataan demikian melainkan keadaan demikian (yakni orang yang lupa akan ayat-ayat yang telah dihapalnya karena melalaikan hapalannya, -pen.). (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim)
Lupa dapat dinisbatkan pada tiga hal yang masing-masing dapat dibenarkan keberadaanya; nisbat pada Allah SWT, nisbat pada syetan (seperti pada surah Al-Kahf/18: 63) dan nisbat pada diri sendiri/nisbat iktisab (lih. Al-A’la/87: 6). Adapun mengenai nisbat kepada Allah (seperti yang diungkapkan dalam hadits di atas) merupakan wujud pengakuan akan kuasa Allah sebagai Pencipta dan yang mengatur segala sisi keberadaan dirinya, yang salah satunya adalah mengenai ayat Al-Quran yang telah dihapalkan seseorang yang tak lain merupakan qudrat-iradat-Nya Yang Maha Pengasih.
Allah SWT berfirman:

الرَّحْمَٰنُ ؛ عَلَّمَ الْقُرْآنَ [٥٥: ١-٢]
“(Allah) Yang Maha Pemurah; Yang telah mengajarkan Al-Quran.” (Ar-Rahman/55: 1-2)

Sebagai kesimpulan prinsip sehubungan dengan kondisi “lupa” akan suatu ayat dari Al-Quran, bahwasannya:
_
-          Bahwa tidak sepantasnya seseorang melupakan ayat-ayat Al-Quran sehingga meskipun ia “terlupa” akan suatu ayat, maka hendaklah tidak mengatakan sesuatu yang cenderung mengabaikan dan menyepelekan Al-Quran yang salah satunya dengan mengatakan “aku lupa dengan ayat ini, ayat itu...”
-          Setiap orang beriman dituntut untuk berkomitmen, memberi perhatian lebih dan setia terhadap Al-Quran, seperti dalam hal menghafal lafazh-lafazhnya maka ia harus bersungguh-sungguh dalam menjaga ayat-ayat yang telah Allah karuniakan dengan menghafalnya – salah satunya dengan selalu mengulang hafalan-hafalannya (muraja’ah).




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!