Apabila kita perhatikan,
betapa iklan-iklan komersil selama menjelang dan di bulan Ramadhan begitu
semarak ditayangkan dengan berbagai cara pengungkapan. Atau di sisi lain, di
berbagai pusat perbelanjaan atau area publik tertentu, beramai-ramai orang
menjual beraneka makanan untuk berbuka. Maka di balik semua itu barangkali juga
dapat diperhatikan bagaimana di rumah-rumah demikian banyak jenis hidangan yang
disiapkan untuk berbuka.
_
| Ironis; apakah ini menu ideal berbuka puasa? |
Apapun jenis makanannya,
bagi orang yang sedang berpuasa akan terkesan lezat dan menggiurkan. Bila seseorang
selalu mengikuti hasrat tersebut dan menyediakan setiap makanan yang hendak
disantapnya menjelang berbuka, pasti akan sangat banyak. Akan tetapi di saat
menjelang berbuka, dan seseorang telah membatalkan puasanya dengan satu jenis
minuman atau makanan, atau sekedar meminum air putih, hal itu pasti dirasakan
lebih dari cukup baginya. Maka bagaimana dengan aneka menu berbuka yang
disediakan?
Kebiasaan menyiapkan
makanan yang beraneka dan dalam jumlah banyak untuk berbuka, yang ternyata
justru hal itu kemudian terbuang sia-sia, sangatlah bertentangan dengan
substansi berpuasa. Bahwa seseorang dapat menahan diri dari makan-minum selama
waktu yang ditentukan, bukan berarti ia dapat mengikuti dorongan nafsunya
setelah habis waktu tersebut. Banyaknya makanan yang tersisa, atau bahkan tidak
sempat dicicipi sama sekali, merupakan perbuatan tabdzir yang di dalam
Al-Quran disebutkan sebagai perbuatan perbuatan para kawanan syetan (lih. QS.
17: 27). Alangkah ironisnya hal tersebut mengingat bahwa di bulan yang mulia ini
padahal syetan-syetan dibelenggu.
Rasulullah s.a.w.
mengatakan:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ
الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَرُ (رواه أحمد عن أبي هريرة)
“Banyak sekali orang
yang berpuasa (tetapi) ia hanya mendapatkan haus dan lapar saja dan banyak yang
shalat malam (tetapi) ia hanya mendapatkan (kelelahan karena) begadang.”
(Riwayat Ahmad dari Abu Hurairah r.a.)
Tidak berbeda dengan
ibadah lain, seperti shalat, dapat dijumpai ungkapan yang justru menempatkan
seseorang pada keadaan yang mencelakakan, Allah SWT berfirman: “Celakalah
orang-orang yang shalat; yaitu mereka yang lalai dalam shalatnya; (yaitu)
mereka yang berbuat riya’ dan enggan untuk membantu sesama dengan sesuatu yang
berguna.” (QS 107: 4 – 7)
Salah satu hikmah yang
terdapat dalam ibadah puasa adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dari
melakukan hal-hal yang terlarang yang tidak lain merupakan kecenderungan untuk
selalu mengikuti hawa nafsu. Perbuatan tabdzir bukan sekedar sifat
mengikuti hawa nafsu, ia juga dapat berarti ketidakpedulian seseorang pada
orang-orang lemah yang diantara mereka banyak yang cukup terbiasa dengan rasa
haus dan lapar karena kekurangannya, yang sejatinya lebih dapat ia sadari
keberadaannya ketika seseorang menjalankan puasa.
_
Banyak hal lain yang
merupakan sifat mengikuti hawa nafsu yang seringkali justru dilakukan orang karena
puasa (bulan Ramadhan). Salah satu indikator tersebut ditunjukkan dengan
naiknya tingkat konsumsi yang ditengarai justru meningkat di bulan Ramadhan. Bulan
Ramadhan yang dengan ibadah puasa di dalamnya akan membentuk pribadi yang
bertakwa, semestinya lebih menjaga kita lebih dapat menjaga diri yang hal-hal
yang terlarang, yang salah satunya adalah tidak berlebih-lebihan dalam
makan-minum.
Allah SWT berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ
عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا
يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
[٧: ٣١]
“Hai anak Adam, pakailah
pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan
janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berlebih-lebihan.” (Al-A’raf/7: 31)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!