Salah satu karakter syetan yang menulari
manusia adalah ketergesa-gesaan. Ketergesaan membuat seseorang untuk sesegera
mungkin menyelesaikan satu perbuatan tanpa memperhatikan kualitas yang harus
diwujudkan atau bahkan banyak kekuarangannya. Dalam ibadah shalat, sebagai
contoh, orang yang tergesa-gesa dalam shalatnya yang diibaratkan seperti ayam
mematuk makanannya yakni shalat yang tidak memenuhi rukun tumaninah
mengakibatkan shalatnya sendiri tidak sah. Demikian itu cukup jelas dinyatakan
Rasulullah s.a.w. ketika melihat seseorang yang shalatnya demikian untuk
mengulang kembali shalatnya.
Dalam hal melakukan sesuatu yang
sudah ditetapkan batasan waktunya seperti ibadah puasa, ketergesaan itu mengakibatkan
rasa tidak menikmati apa yang sedang dilakukan. Ibadah kemudian hanya dirasai
sebagai belenggu atau beban yang menyiksa, berat untuk ditunaikan sehingga
tidak sedikit orang yang berani meninggalkan amal ibadah yang harus
ditunaikannya. Menjelang akhir Ramadhan, tidak sedikit jama’ah yang enggan
untuk melakukan berbagai aktivitas yang sebelumnya begitu semarak di
masjid-masjid atau di luar masjid.
Ibadah di bulan Ramadhan memiliki
banyak hal substanstif yang dapat meningkatkan kapasitas ketakwaan seseorang. Demikian
sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Quran (2: 183) bahwa puasa diperintahkan
untuk meningkatkan ketakwaan. Di antara substansi amal ibadah di bulan Ramadhan
antara lain;
a)
Rasa takut kepada Allah SWT yang
semakin kuat. Puasa menempatkan seseorang untuk senantiasa memiliki kesadaran
bahwa ia senantiasa ada dalam pengawasan Allah baik untuk hal-hal yang tampak
maupun tersembunyi.
b)
Kesungguhan dan keteraturan dalam
beramal, yang merupakan modal besar dalam menyempurnakan satu perbuatan dan apa
yang hendak dihasilkan. Dengan kesungguhan yang sang sulit dan berat sekalipun menjadi
mudah untuk dilakukan. Demikian juga dengan keteraturan, selain bahwa hal itu
lebih mengakrabkan tubuh pada satu pola dan keterikatan yang kuat dalam
menunaikan amal ibadah.
c)
Ketahanan dan penawar akan
syahwat
d)
Kesetaraan dan kebersamaan, yang
meskipun puasa terkesan berat untuk ditunaikan, karena setiap orang secara
bersama-sama menanggung hal serupa maka hal itu di antaranya menimbulkan
kemudahan dan keringanan.
Maka menjelang sepuluh akhir,
sebagaimana pula sangat dianjurkan untuk beri’tikaf dan membayar zakat fitrah. Rasulullah
s.a.w. juga mengajarkan satu do’a:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ
الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah Yang Maha Pemaaf,
Engkau suka memaafkan. Maka maafkanlah aku.”
Dengan memanggil Allah Yang Maha
Pemaaf, ialah Allah yang senantiasa memaafkan dosa dan kesalahan hamba-Nya,
yang di dalam nama tersebut mengandung pengertian bahwa Allah akan menghapus
dosa-dosa tersebut dan membebaskannya dari akibat atau azab atas dosa tersebut.
Doa diatas menekankan agar senantiasa bertaubat dan bukan sebaliknya
berbangga-bangga dengan amal kebaikan yang telah dilakukan.
_
Dan satu pedoman dari Rasulullah
s.a.w. agar kita senantiasa merasakan kenikmatan dalam beribadah kepada-Nya,
beliau mengatakan:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ:
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ
يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي
الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
(البخاري ومسلم)
“Tiga hal, barang siapa yang hal
itu ada pada dirinya maka akan mendapatkan manisnya iman: hendaklah Allah dan
Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya; dan dalam mencintai seseorang
hendaklah ia tidak mencintainya kecuali karena Allah saja; dan hendaklah ia
membenci kepada kekufuran sebagaimana kebenciannya akan dilempar ke dalam
api/neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!