Barangkali pikiran ini dengan
mudah hinggap di kepala kita, untuk dapat menghapal Al-Quran tergantung pada
tingkat kecerdasan (Intelligence Quotient) yang dimiliki seseorang.
Tidak sedikit orang yang berhenti atau sama sekali melakukannya karena menurut
dirinya ia tidak memiliki IQ yang bagus. Banyak ungkapannya seperti; aku sulit
menghapal, otakku butek dan lain sebagainya.
Sebaliknya, barangkali juga bagi
sebagian lain dengan kecerdasan tinggi yang dimilikinya, Al-Quran dapat dengan
mudah dihapalnya. Maka muncullah semacam komentar untuknya, seperti; wajar saja
IQ-nya tinggi, ingatannya kuat, dan lain sebagainya. Tapi, bukankah kita juga
cukup tahu bahwa betapa banyak orang yang memiliki kecerdasan luar biasa justru
tidak hapal Quran atau bahkan sama sekali tidak menghapal satu surat pendek
sekalipun?
Allah SWT berfirman:
الرَّحْمَٰنُ ؛ عَلَّمَ الْقُرْآنَ [٥٥: ١-٢]
“Allah Yang Maha Pengasih; (Dia)
mengajarkan Al-Quran.” (Ar-Rahman/55: 1-2)
Dalam mengkaruniakan Al-Quran
(salah satunya menghapal), pada ayat di atas dapat diperhatikan bagaimana diungkapkan
dengan menggunakan satu Nama Allah ‘Ar-Rahman’, Yang Maha Pengasih, yang dengan
Nama tersebut menegaskan bahwa Allah adalah Dzat yang senantiasa memberikan
sebagian dari rahmat-Nya kepada semua makhluk tanpa menilik pada
kadar/penilaian akan makhluk-makhluk tersebut.
Dapat kita perhatikan juga sifat
general rahmat Allah mengenai Al-Quran dengan menggunakan seruan umum kepada
segenap manusia, sebagaimana difirmankan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم
مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ
لِّلْمُؤْمِنِينَ (١٠: ٥٧]
“Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
Dari 6.236 atau 6.348 ayat
Al-Quran (lih. Berapa Jumlah Ayat Al-Quran?), ketika kita berhenti membaca,
mempelajari, menghapal ayat-ayatnya yang kita abaikan? Ma’adzallaah. Tak
jarang ada orang mengatakan “tak apa tidak hapal Quran yang penting perilaku
kita sesuai dengan Al-Quran”. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa tahu
bahwa perilaku kita telah sesuai dengan Al-Quran sementara jangankan makna yang
terkandung di dalamnya bahkan lafazh-lafazhnya saja tidak diketahui dengan
baik?
_
Pada ayat di atas, salah satu kedudukan Al-Quran bagi manusia adalah sebagai petunjuk. Dengan cara apapun kita bermu’amalah dengan Al-Quran, adalah cara yang sama sekali tidak boleh berhenti. Bahkan di saat seseorang telah khatam menghapal Al-Quran, hal tersebut bukan berarti ia dapat berhenti atau selesai urusannya dengan Al-Quran. Seperti apakah keutamaan yang akan diraih seseorang dari Al-Quran, Allah SWT berfirman:
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى
وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ [٤٧: ١٧]
“Dan
orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka
dan memberikan (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad/47: 17)
Ungkapan menerima petunjuk ( اهتدى ) juga memiliki arti mencari,
memperoleh dan menetapi petunjuk. Dengan memaknai bacaan, hapalan, pemahaman
atau bentuk mulazamah lain dengan Al-Quran sebagai petunjuk
(hidayah), bagaimana Allah akan menambahkannya untuk kita tak lain harus senantiasa
menerima petunjuk (Al-Quran) dan bukannya berpaling dari Al-Quran. Raghib
Al-Isfahani menjelaskan bahwa hidayah taufik (ilham untuk mengikuti
jalan yang benar dan menerima, memilih kebenaran dengan lapang), adalah hidayah
yang dikhususkan bagi orang-orang yang salah satunya diungkapkan dalam ayat
tersebut (47: 17).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!