Mengatakan "Insyaallah" untuk Melanggar Janji?



Allah SWT berfirman:
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ؛ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا [١٨: ٢٣-٢٤]
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".” (QS. Al-Kahfi/18: 23 – 24)
_
Dari ayat di atas dapat dibuat satu kesimpulan bahwa mengucapkan kata-kata “insyaallah” itu diperintahkan dalam hal mengatakan sesuatu yang hendak/akan dilakukan di waktu mendatang. Ath-Thabari mennjelaskan bahwa di sini terdapat pembelajaran (ta’dib) agar dalam mengatakan sesuatu yang hendak dilakukan tidak menjaminkan satu kepastian kecuali dengan menautkannya pada kehendak Allah SWT karena keberadaan segala sesuatu ada dalam kehendak-Nya.
Sikap menjaminkan satu kepastian tanpa mengecualikannya (istitsna) pada kuasa dan kehendak Allah SWT digambarkan sebagai sikap yang dicerca Allah sebagaimana Firman-Nya:

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ ؛ وَلَا يَسْتَثْنُونَ 
[٦٨: ١٧-١٨]
“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengecualikan (pada kehendak Allah).” (Al-Qalam/68: 17-18)
Dalam menggunakan kata-kata insyaallah tidak sedikit yang mengatakannya dimaksudkan tidak untuk menautkan hal yang ia katakan pada kehendak Allah SWT, melainkan dengan maksud bahwa ia tidak menjanjikannya atau yang lebih buruk lagi, kata-kata insyaallah justru seolah-olah dianggap sebagai penggugur dosa mengingkari janji. Penafsiran lain (secara zhahir) ayat di atas juga memiliki makna agar tidak mengatakan, “aku akan melakukan itu besok kecuali Allah berkehendak (lain)”, yang lebih mengarah pada upaya untuk mengingkari janji.
Dalam menta’wil akhir ayat ke-24 dari surat Al-Kahfi, para ulama salaf mengarahkan sifat lupa terkait dengan ihwal keharusan mengatakan “insyaallah”, yakni dengan berdzikir dan memohon kepada Allah untuk senantiasa mendapat bimbingan-Nya. Dengan demikian, meskipun mengatakan insyaallah itu demikian mudahnya diucapkan, ia merupakan pengukuhan keimanan akan mutlaknya kuasa dan kehendak Allah SWT. Terbiasa mengatakan ungkapan insyaallah dan bisa dengan mudah melontarkannya bukanlah sesuatu yang buruk karena Allah memerintahkan agar kita senantiasa menuturkannya.
_
Akan tetapi apabila kata-kata itu begitu mudahnya terlontarkan tanpa mengingat sama sekali substansinya apalagi apabila hal itu dilakukan secara serampangan apalagi untuk mengingkari janji, ungkapan insyaallah hanya akan melenakan seseorang dalam satu kesalahan yang tidak disadari, yakni seperti apa yang digambarkan dalam ayat berikut:
كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [١٠: ١٢]
“... Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus/10: 12)




Print Friendly and PDF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koreksi, kritik dan saran atau pertanyaan Anda, silahkan...!